CINTA YANG DIDUSTAKAN (4) Oleh Dewy Rose.



Pada senja temaram yang selalu menjuntai sunyi dikeheningan malam. Terbesit sejumput asa dalam raga yang rapuh namun tetap tegar bak setangkai bunga diterpa angin yang berembus kencang, walaupun meliuk bergoyang tetap bertahan hidup. Mungkin seperti itulah lukisan yang tergores dalam perjalanan kisah hidup. Sementara malam kian meninggi, hingga tiada dapat terlihat jejak-jejak langkah yang telah menapak pada dinding kalbu, seolah kembali terhalang kabut. Walau hari tiada dipenuhi mendung dan mega selalu berarak cerah.

Ketika kembali menikmati kehidupan dengan berbagai cobaan, tetaplah tersenyum untuk melewatinya. Walau pahit itu pasti dan dapat dirasakan namun cobalah telaah lebih dalam kembali, bukankah kadang kepahitan dalam hidup dapat dijadikan sebagai obat di kemudian hari?

Hari-hari penuh kesunyian yang dirasakan oleh Aisyah kujadikan penuh berwarna, meski dalam hati kesunyian semu pun mewarnai kehidupanku. Seperti siang ini kami bercanda sambil menikmati film kartun yang ditayangkan oleh salah satu stasiun televisi. Diam-diam kupandangi wajahnya yang tersenyum saat menyaksikan film kartun kesukaannya.

Nak, andai saja kau terlahir seperti teman-temanmu yang lain, tentu saat ini lebih memilih bermain dengan mereka. Beruntungnya diriku, yang bisa setiap saat selalu bersamamu. Melihatmu tertawa, bermain bahkan menangis saat keinginanmu tidak terpenuhi, karena aku sebagai ibumu kadang tidak memahaminya, batinku sambil tersenyum menghibur diri.

“Aisyah, maafkan keadaan ini, mungkin suatu saat nanti waktu ‘kan berpihak pada kita, Nak,” gumamku dengan mata yang mengembeng.

Tiba-tiba suara handphone berbunyi, saat kulihat di layar tertera “noname” nama yang kuberikan saat nomor itu menelepon beberapa bulan yang lalu. Sebenarnya malas sekali untuk menerima telepon ini. Tapi sudah beberapa kali nomor itu menghubungiku.

“Assalamu’alaikum!”

“Wa’alaikumussalaam, Mbak Dewi apa kabar?”

“Alhamdulillah, maaf ini siapa ya?” tanyaku sambil terus memutar ingatan tentang suara siapa ini.

“Bagaimana kabar Aisyah, Mbak? Sudah pulang sekolah ya, Mbak?” Tanpa menjawab pertanyaanku, Dia menanyakan kabar Aisyah.

“Aisyah belum sekolah, karena anakku tidak seperti anak-anak seusianya. Aisyah tidak bisa berbicara.” ucapku seakan tercekat saat mengatakan semua ini.

“Oh! Bagaimana kabar Bang Ipul, Mbak? Kabar yang saya dengar Abang sekarang sering tugas luar kota?” tanyanya lagi.

“Iya!” jawabku singkat, sambil terus berusaha mengingat suara ini.

“Mbak masih belum ingat siapa Saya?” ujarnya kemudian, sambil kudengar Dia menarik napas.

“Saya Dian, Mbak! Teman Bang Ipul dahulu, Mbak ingat saya sekarang?” Dia balik bertanya setelah mengenalkan diri.

“Dian? Ya, aku ingat sekarang, bagaimana kabar Dimas? Tentunya Dia sudah bersekolah ya?” Sekarang aku balik bertanya dengan nada riang, karena Dian adalah teman kerja Bang Ipul dahulu.

“Sudah, Mbak! Tahun ini Dimas akan masuk SD.” Dian menjawab dengan antusias.

“Bagaimana kabar Mas Anto suamimu? Kalian masih di Surabaya?” Kini aku yang mengajukan pertanyaaan pada Dian.

“Hmmm!”

“Kamu sudah punya anak dua ya, Dian? Sewaktu kemarin  kamu telepon dan mengatakan Friska menangis, berapa usia Friska sekarang?” Kembali aku mengajukan pertanyaan secara bertubi-tubi kepadanya.

“Hmmm!”

Kembali kudengar Dian hanya berdeham.

“Dian?”

“Ya, Mbak?” Dian menjawab setengah hati seakan tidak menyukai pertanyaanku. Tak lama terdengar suara anak kecil menangis.

“Maaf, Mbak! Lain kali saya telepon lagi, salam untuk Bang Ipul ya, Mbak? Assalaamu’alaikum!” Dian mengakhiri percakapan di telepon.

“Wa’alaikumussalaam,” jawabku sambil mendengar suara tangisan Friska dan suara seorang lelaki lamat-lamat dari telepon memanggil nama Dian, sebelum telepon ditutup.

Suara itu ... Ah! Sepertinya aku mengenal suaranya, namun terlalu samar untuk mendengar secara jelas. Anto? Ah, sudahlah, batinku menenangkan diri.

Setelah selesai berbenah, kemudian kembali melanjutkan aktivitas di depan laptop, sebagai teman setia selama ini. Namun kembali aku mengingat tentang percakapan telepon dengan Dian. Ada rasa senang, sebab sudah lama tidak bertemu apalagi berbincang dengannya seperti tadi.

Dian! Ya, Dian teman kerja Bang Ipul dulu sebelum menikah denganku. Sambil memandangi Aisyah yang sedang bermain dengan boneka hello kittynya, tiba-tiba kembali aku teringat tentang Dian.

Bukankah dahulu Dian ... Ah! Sudahlah, batinku kembali sambil menerawang pada kisah beberapa tahun yang lalu. (bersambung)

DR.
Bekasi, 30 Maret 2018
15:51
Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.