Menyulap Batang Bambu Tak Berguna Menjadi Uang

Gelas Bambu bergambar wayang karya Heri Santoso/ Dok.Pribadi Heri Santoso

Kabar JPI-  Dibuang Sayang, ekspresi saat melihat banyaknya potongan bambu bekas bangunan yang berserakan di sekitar rumahnya. Heri Santoso 39 tahun, Lelaki yang tinggal Di Lampung ini , mencoba menyulap potongan batang bambu tak berguna tersebut menjadi sebuah karya yang memiliki nilai jual. 

Teringat akan orang jaman dahulu yang sering minum dengan gelas dari bambu, kemudian membuat Heri terisnpirasi untuk.membuat gelas dari bambu.

Bermodal uang Rp30 ribu, Heri memberanikan diri untuk memulai usahanya itu. Pada awalnya gelas bambu yang dibuatnya masih berupa gelas polos. Dirasa kurang menarik, makanya dia mulai belajar teknik lukis bakar dengan menggunakan solder. Heri sendiri mengaku bahwa dirinya bukan terlahir dari seorang seniman ataupun pengrajin. Teknik ketrampilan melukisnya mutlak dia peroleh dari ketelatenan dan kerja kerasnya sendiri.

Tak ada sesuatu yang mudah dan instan dalam kehidupan ini. Begitu juga yang dialami Heri ketika merintis usaha kerajinan bambu ini. Selain karena keterbatasan modal, proses pemasarannya karyanya masih begitu terbatas. Harga satu gelas bambu pada awalnya dijual dengan harga 15 ribu rupiah. Biasanya dalam satu minggu hanya terjual dua gelas saja dan bila beruntung bisa terjual sampai lima biji. Hal tersebut tentu sangat berat untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Terlebih dia harus menghidupi istri dan ketiga anaknya. 

Meski banyak orang yang mencemooh dan menertawakan pekerjaannya ini, namun Heri tak pernah tumbang. Dia bertekad, dari kerajinan bambu ini dia juga bisa hidup sejahtera. 

Setelah beberapa saat akhirnya Heri mulai mengenal grup kerajinan di facebook. Perlahan pembeli mulai berdatangan dari luar daerah.  Kini usahnya sudah semakin lancar. Bahkan saat ini dia tak hanya memproduksi gelas saja, namun kini dia sudah merambah membuat jam dinding, jam meja, emban akik, cermin, termos kecil, dan juga gantungan kunci. Untuk satu gelas bambunya sekarang dia patok dengan harga Rp50ribu untuk sebuah gelas.

Perlahan tapi pasti orderan semakin banyak berdatangan padanya. Bahkan saat ini dia tengah membuat orderan piala untuk perlombaan Tenis yang diadakan oleh PT Bukit Asam dalam memperingati Hari ulang tahunnya.

Bagi Heri sendiri, kepuasaan pembeli merupakan harga mati. Dia tak pernah setengah-setengah dalam menyelesaikan karyanya. Gelas bambu buatanya dibuat tanpa bahan pewarna dan pengawet, sehingga aman untuk dipakai. Bahkan semakin lama gelas itu dipakai, maka semakin bagus warnanya. Sejauh ini, dia belum mendapati ada pembeli yang komplain akan produk yang dia buat.

Semakin hari semakin banyak peminat gelas bambu ini. Nyatanya gelas bambu ini sudah dikirim ke berapa daerah di Indonesia. Bahkan gelas bambu ini sudah pernah di eksport hingga ke luar negeri, seperti ke negara Hongkong, Australia, Kanada, Jerman, dan Hongkong.

Suatu hal yang dulunya sering dipandang sebelah mata oleh sebagian orang, namun berkat kerja keras dan semangat yang tak pernah pudar, Heri bisa membuktikan bahwa apapun itu bila dilakukan dengan sungguh-sungguh bisa menghasilkan sesuatu yang bisa dibanggakan.

"Tak ada yang tak mungkin di dunia ini bila kita tetap mau belajar dan berusaha, saya selalu mengingat perkataan idola saya, Valentino Rosi, 'Andaikan saya tak pernah mencoba', " tutur Heri.

Pewarta: Reni Soengkunie

Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.