"Sepeda baru Keluarga baru"


 "Sepeda baru Keluarga baru"
Oleh: Muhammad Farid

Sebut  saja dia ANDI, Andi adalah seorang anak semata wayang yang terlahir dari keluarga yang kurang beruntung, bapak Andi sudah meninggal ketika Andi masih bayi, kini ia tinggal hanya berdua dengan ibu nya RABIAH di istana kecilnya, Andi kini duduk dibangku Smp, sehari-hari Andi menapaki jalan ke sekolah dengan berjalan kaki. letak sekolah cukup jauh dari rumah Andi, setiap subuh Andi harus bangun lebih dulu sebelum ayam berkokok dan teriakan ibu Rabiah pun selalu lebih dulu dari ayam yang berkokok. teriakan ibu membangungkan Andi mulai terdengar, ”Andii,” tiga kali panggilan ibu meneriaki Andi namun tak kunjung bangun. ”Wiihh Andi coba lihat ada sepeda keren lewaatt,” teriak ibu Rabiah dari luar jendela, sentak Andi pun membuka mata.

Yah begitulah Andi, Anak yang sangat memimpikan sepeda baru yang bagus dan keren, namun Andi sadar dan mengerti akan kondisi ekonomi ibu nya Rabiah. usai mandi, Andi bersiap-siap berangkat ke sekolah. ritual yang tak pernah dilewatkan Andi jika berangkat dan pulang sekolah ialah menyempatkan singgah di toko sepeda yang dilalui nya, ada satu sepeda di toko itu yang sangat disukai dan didambakan Andi, tiap hari saat Andi pergi atau pulang sekolah Andi memegang sepeda baru yang terpajang ditoko itu sambil memohon dalam hati, “ya tuhan semoga sepeda ini tak laku-laku, Aamiin.” dan menyelipkan kertas di plastik sepedanya  yang bertuliskan,

“seharusnya sepeda ini milik saya, tapi mungkin kamu lebih dulu punya uang, jaga baik-baik ya sepedanya, kalau saya punya uang saya beli lagi ya, siapatau butuh uang.” tak lupa Andi menuliskan alamat E-mail dan rumah. “email pesbug: aNdILoVeRaBiaH@yahoo.com, Alamat: desa ased(rumah yang paling imut)”. Dengan cara itu Andi merasa aman jika suatu saat sepeda yang disukai nya itu sudah laku terjual, bagi Andi memegang nya saja sudah sangat bahagia apalagi memiliki nya.

Keesokan harinya seperti biasa, Andi tak pernah lupa untuk singgah di toko sepeda itu untuk melihat sepeda kesukaan nya, namun kali ini Andi tak segembira seperti hari biasanya, sepeda yang hari-hari disambangi nya di toko sepeda itu sudah tak nampak terpajang di depan toko, sudah tiga hari Andi tak melihat sepeda impian nya itu terpajang didepan toko, karena rasa penasaran, Andi mencoba menanyakan kepada pemilik toko. “pak numpang nanya, sepeda yang berwarna biru putih yang biasa dipajang dipojok kanan kemana?” tanya andi dengan cemas. “oh sudah dibeli dek dengan orang kompleks yang disebelah,” jawab si penjual. dengan muka lesu Andi pun pamit. ”oh begitu ya pak, yasudah makasih ya pak.” ”iya dek.” dugaan Andi benar kalau sepeda kesukaan nya itu sudah laku terjual, Andi pun pulang menuju rumah dengan penuh kepasrahan, di tengah perjalanan Andi berpapasan dengan penjual/jualbeli rongsokan, langkah kaki Andi berhenti sejenak, sambil melihat Anak kecil di tumpukan batang dan ban sepeda milik si penjual rongsokan itu. setelah penjual barang rongsokan itu jauh, Andi melanjutkan langkah perjalanan nya kembali menuju rumah, sampai di rumah Andi langsung membuang tas dan membuka sepatu, lalu bergegas membantu ibunya Rabiah yang lagi mengurus bebek dikandang, ibu Rabiah bukanlah pemilik dari bebek yang ia urus, ibu Rabiah hanya diberikan kepercayaan kepada tetangga nya untuk mengurus bebek tersebut, ibu Rabiah tak dibayar dengan uang melainkan hanya diberi bayaran sepuluh biji telur bebek/harinya dan terkadang diberi sedikit daging bebek yang sudah dipotong.


Matahari mulai terbenam di iringi suara adzan magrib dari menara masjid, setelah seharian mengurus bebek, ibu Rabiah pun pamit pulang ,imbalan sepuluh biji telur dalam kantong diberikan kepada ibu Rabiah dan hari ini rabiah mendapatkan sedikit rejeki daging bebek yang sudah di potong, ibu Rabiah pulang bersama Andi, Rabiah membuat Nasu Palekko kesukaan Andi untuk makan malam mereka, ibu Rabiah memperhatikan Andi yang tidak seperti biasanya jika melihat hidangan Nasu Palekko. “ada masalah apa nak? cerita sama ibu,” tanya Rabiah. “sepeda baru yang saya impikan ditoko itu bu, sudah laku,” jawab Andi dengan muka yang sedih. Ibu Rabiah meletakkan sendok makan kemudian minum dan berdiri menuju kasur, Rabiah mengambil uang tabungan dibawah kasur dan menuju Andi, Rabiah memberi uang tersebut kepada Andi. “ini ada sedikit tabungan ibu, pakai saja beli sepeda,” kata Rabiah. “tidak usah bu, saya tau itu uang beli beras kita sehari-hari, biar saya usaha sendiri, saya ada rencana,” jawab Andi dengan senyum.


Suara Adzan subuh mulai terdengar, Andi kini bangun lebih dulu dari ibunya Rabiah, Andi mengenakan pakaian biasa sedangkan pakaian sekolah nya disimpan di tas, seperti tadi yang Andi bilang, bahwa ia punya rencana, ternyata rencana Andi tak seindah yang dipikirkan, Andi bertujuan mencari barang rongsokan yang sudah dibuang orang ditempat sampah, kebetulan rumah Andi dekat dari tempat pembuangan sampah di seluruh kota Makassar tepatnya Antang, ditempat itu Andi mengambil barang rongsokan yang masih layak dijual, beberapa barang diambil oleh Andi salah satunya buku yang masih terlihat utuh.


Setelah beberapa jam berada ditempat pembuangan sampah, Andi pun memakai seragam sekolahnya dan bersiap-siap ke sekolah, setelah sampai disekolah Andi menyimpan karung berisi rongsokan tadi di halaman belakang sekolah dan menuju kelas. “Andi kenapa kau bau sampah?” tanya salah satu teman kelas Andi sambil menutup hidung. “ah serius? mungkin hidung mu yang basi,” jawab Andi dengan pede nya. pelajaran pun dimulai, kali ini Andi belajar menggambar, Andi menggambar sepeda yang di impikan nya itu, Andi lihai dalam menggambar, gambaran nya sering dituai pujian dari guru maupun teman nya. “gambaran mu bagus tapi kenapa sepeda terus yang kau gambar?” tanya teman sebangku nya. “masih mending Andi, daripada kamu gunung terus.” jawab teman Andi yang dibangku belakang.


Bell sekolah berbunyi, waktu pulang pun tiba. Andi sangat tergesa-gesa dan cepat-cepat membereskan bukunya, Andi berjalan lebih cepat dari biasanya sambil membawa karung di pundaknya, sampai dirumah Andi langsung membongkar karung tadi yang berisi rongsokan, barang yang lebih dulu diambil Andi adalah Buku yang masih terlihat utuh itu, Andi membuka buku itu dengan terbalik, ada foto selembar yang jatuh, Andi memungut dan melihat. didalam foto tersebut tampak seorang anak laki-laki, setelah melihat, Andi  menyimpan foto itu dilemari bukunya. Andi pun mulai membuat barang rongsokan tadi itu menjadi barang yang layal dijual, hasil jualan nya tidak ia tabung melainkan langsung ke toko sepeda membeli satu-persatu bagian sepeda hingga akhirnya menjadi sepeda yang utuh. Hasil keringat Andi selama ini berbuah manis berkat kesabaran dan cekatan nya, Andi kini kesekolah ataupun membantu ibunya menjual telur dengan bersepeda, ibunya Rabiah turut bangga punya Anak seperti Andi, dengan sepeda yang ia impikan itu tidak lagi terbayang di pikiran Andi.


Hari-hari Andi dilalui dengan penuh kebahagiaan dan semangat tinggi ke sekolah yang makin terpacu, Andi selalu memarkir sepeda nya itu di halaman belakang sekolah tanpa dikunci, Andi berpikir itu Adalah tempat yang aman, waku pulang tiba, dengan semangatnya Andi menuju tempat ia menyimpan sepedanya, seperti hujan tanpa mendung, raut muka Andi yang tadi ceria kini pucat dengan mata yang berkaca-kaca, tidak menyangka sepeda yang dari hasil keringatnya sendiri secepat itu dicuri orang. Andi berjalan menuju kandang bebek dengan penuh kesedihan dan bingung mau bilang apa kepada ibunya Rabiah. setelah sampai di kandang tempat ibunya mengurus bebek, Andi langsung memeluk ibu. “ada apa nak?” tanya ibunya Rabiah. “sepedaku dicuri,” jawab Andi dengan penuh tangisan.


Setelah ibu Rabiah mengurus bebek dan waktunya pulang, Rabiah membangun kan Andi yang ketiduran. “Andi Andi bangun,” kata Rabiah sambil menggoyangkan pundak Andi. Andi pun bangun dan cuci muka setelah itu mereka berdua jalan menuju rumah dengan kantong berisi telur di tangan kiri ibu Rabiah. hari sudah malam, ibu Rabiah sedang menyapu sedangkan Andi lagi memegang dan melihat buku yang menggambarkan kecerian ibu dan anak serta foto yang didapatnya dari tumpukan sama, Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. “siapa ya malam-malam begini,” kata ibu Rabiah  dengan nada pelan dan rasa heran. “Assalamu’alaikum,” salam dari ibu FATMA. “Wa’laikumussalam, ada apa ya bu,” jawab Rabiah dengan sedikit penasaran. “apa betul ya ini rumah Andi?” tanya ibu Fatma dengan nada pelan.

“iya bu betul, ini saya ibu nya Andi,” kata Rabiah sambil mengajak masuk. “perkenalkan bu, saya Fatma dari kompleks sebelah,” kata ibu Fatma sambil mengajukan tangan kanan. “ibu Rabiah,” kata Rabiah sambil mengajukan tangan kanan juga. “ini bu Rabiah saya mau ngasih sepeda anak saya ke Andi anak ibu, pas saya beli sepeda ini, saya dapat kertas yang terselip di plastik nya, Andi menulis nama dan alamatnya dikertas ini,” kata ibu Fatma dengan senyum. “Anak ibu bagaimana?” Tanya Rabiah. “anak saya hilang bu, sementara ini masih diselidiki oleh kepolisian,” jawab ibu Fatma dengan nada sedih dan mata berkaca-kaca. “yasudah bu, saya pamit ya, ini sepedanya dikasih Andi, Assalamu’alaikum,” kata ibu Fatma sambil mengusap air matanya. ibu Fatma belum melangkah kan kaki, tiba-tiba Andi keluar dengan buku dan foto itu ditangan nya. “ada apa ya bu?” tanya Andi kepada ibunya Rabiah. ibu Fatma pun sentak balik dan menatap dengan tatapan tajam kepada buku dan foto yang dipegang Andi, karena muncul rasa penasaran nya kepada foto dan buku itu, ibu Fatma pun membalikkan badan. “kamu ya yang namanya Andi?,” tanya ibu Fatma kepada Andi dengan nada pelan. Andi hanya menganggukkan kepala. “bisa saya liat buku dan fotonya itu?” tanya ibu Fatma kepada Andi. “ini,” jawab Andi sambil menyodorkan buku ke ibu Fatma. air mata ibu Fatma kembali berderai, ternyata di foto itu adalah anak ibu Fatma dan buku yang bergambar ibu dan anak. “bisa kau tanya saya Andi, dimana kau dapat ini foto?” tanya ibu Fatma dengan tangis. “saya dapat ditempat sampah bu,” jawab Andi. “ini foto anak saya MALIK,” kata ibu Fatma sambil menutup mulut dan berderai tangisan. mendengar ibu Fatma, ibu Rabiah kaget dan melihat Andi, ditengah tangisan ibu Fatma. “kalau tidak salah saya pernah liat anak ibu,” kata Andi. ibu Fatma pun kaget dan bangkit dari tangisan nya. “dimana nak Andi, dimana?” tanya ibu Fatma dengan penuh harap. “waktu saya dalam perjalanan pulang sekolah, saya sempat singgah dan melihat seorang ibu-ibu yang mendorong gerobak rongsokan dan melihat anak laki-laki diatas gerobak yang sangat persis di dalam foto itu bu,” jawab Andi dengan jelas. ibu Fatma, Andi dan ibu Rabiah mendatangi tempat pembuangan sampah itu, dan mengepung tempat itu dengan sejumlah Aparat, tak lama kemudian ibu yang mendorong gerobak itu datang, ibu itu pun ditangkap oleh petugas namun Malik tak ada di atas gerobak itu, setelah dipaksa mengaku, ibu itu pun menanyakan keberadaan Malik, akhirnya ibu Fatma dan Malik bertemu dikolom jembatan, dimana Malik  yang sedang mengemis, tangis yang bercampur rasa bahagia pun pecah.


Sebagai rasa terimakasih ibu Fatma kepada Andi, Andi tak hanya diberi sepeda yang ia impikan selama ini namun juga ibu Fatma mengajak Andi dan Ibu Rabiah tinggal se-atap dirumah Fatma yang mewah. “Apa Ibu Rabiah dan Andi bersedia tinggal dirumah saya?” tanya ibu Fatma. “rumah ini punya banyak kenangan untuk saya dan ibu juga bapak waktu masih hidup, lagi pula saya tidak pernah melakukan apa-apa bu, cuma Allah saja yang ngasih petunjuk lewat saya,” kata Andi. “kalau begitu saya aja yang tinggal dirumah Andi dengan ibu,” kata Malik. kini mereka semua menjadi satu keluarga yang sangat bahagia, ibu Fatma dan Malik menjalani hidup dengan sederhana, Andi dan Malik layaknya saudara kandung, semuanya berkat tindakan kecil dan konyol yang dilakukan Andi dengan selembar kertas tertulis yang diselipkan disepeda baru impian nya itu.
Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.