INSYA ALLAH HALAL


SINOPSIS FTV RELIGI

INSYA ALLAH HALAL

Cerita & Skenario

 Adit Mahatva & Endik Koeswoyo

 


Hidup di lingkungan penjudi yang tenar dengan sebutan Kampung Joker, membuat Lina (22 tahun) akrab dengan segala jenis macam perjudian. Pak Edi (50 tahun) ayahnya juga seorang bandar dadu, dan Marli (50 tahun) ibunya berjualan minuman keras oplosan tanpa merk di warung milik mereka yang ada di pusat kampung tersebut. Sebagai keluarga penjudi, keluarga Lina sering menelan kekalahan,  namun sesekali menang dengan hasil jutaan rupiah. Maka dari itu, berjudi dianggap cara terbaik mendapatkan uang. Kekayaan keluarga Lina pun terus bertambah. Sehingga memiliki beberapa rumah untuk dikontrakkan. Meskipun tak jarang, ditertibkan oleh Polisi yang sedang berpatroli, keluarga Lina tak juga jera dalam berjudi.

Di sisi lain, Ridwan (25 tahun) seorang dokter yang baru diwisuda, sedang membuka klinik praktek di Kampung Joker merasa kewalahan. Karena setiap hari pasien yang datang sakit nya aneh- aneh. Dan kebanyakan sakit mereka, rata- rata hanya sering - begadang dan mabuk- mabukan. Dan tak jarang mereka pasien yang datang mengalami hypertensi dan stress karena kebanyakan hutang akibat kalah judi. Dari semua pasien yang datang dari Kampung Joker, Ridwan tidak menarik biaya sepeser pun. Bukan karena Ridwan tidak butuh uang, tapi dia tidak mau menerima uang dari hasil perjudian. Jadi selama menjadi dokter, Ridwan mengandalkan gajian hanya dari rumah sakit tempat dia bekerja. Sementara klinik di Kampung Joker, sebagai pengabdian dan ladang dakwah saja. Berharap suatu saat, Kampung Joker menjadi kampung yang agamis dan menyejukkan. Sedikit demi sedikit Ridwan pun menasehati para pasiennya agar berhenti berjudi dan minum miras. Memang sudah tabiat warga Kampung Joker yang maniak judi, sesekali berhenti, ada uang kembali berjudi lagi.

Suatu ketika, Pak Edi harus ditandu ke klinik dokter Ridwan, karena mendadak badannya kaku saat sedang asyik bermain dadu. Karena sedang waktu istirahat salat zuhur, maka klinik dokter Ridwan kosong. Hanya terpampang tulisan "Sedang Sholat". Lina yang kebetulan ikut mengantar Pak Edi bersama Bu Marli, teriak- teriak minta Pak Edi segera ditangani. Namun dokter Ridwan masih belum juga keluar. Hampir 30 menit, dokter Ridwan baru keluar. Lina yang kesal, enggan meneruskan niatnya untuk mengobatkan ayahnya ke dokter Ridwan. Karena menganggap dokter Ridwan tidak serius menangani pasien. Namun Bu Marli mencoba menenangkan Lina, dan membujuk Lina agar Pak Edi tetap berobat di dokter Ridwan saja karena gratis. Terpaksa Lina menyetujuinya. Setelah dilakukan pemeriksaan kondisi Pak Edi, ternyata mengalami gejala stroke. Bisa disembuhkan dengan rutin melakukan terapi. Saat mau membayar biaya obat, lagi- lagi dokter Ridwan enggan menerimanya. Karena keluarga Lina dari Kampung Joker yang terkenal kampung Judi. Lina pun semakin kesal, menganggap dokter Ridwan adalah dokter paling sombong sedunia.

Saat Pak Edi sakit, Bu Marli yang menggantikan Pak Edi sebagai bandar dadu. Lina yang biasanya siaga akan memberitahukan jika ada Polisi Patrol. Kebetulan dia tidak ada di tempat. Karena sedang disuruh Bu Marli belanja kebutuhan warung. Akhirnya polisi patrol berhasil meringkus para penjudi. Termasuk Bu Marli yang bertindak sebagai bandar. Akibat peristiwa tersebut, kehidupan keluarga Lina semakin berat. Biaya pengobatan Pak Edi di Rumah Sakit membengkak, sementara penghasilan warung miras oplosan merosot drastis. Karena aktivitas judi, tidak seramai dulu. Sehingga para pembeli yang datang menurun. Sementara itu, Bu Marli berencana minta bantuan si dokter Ridwan, untuk pengobatan Pak Edi. Tapi Lina bersikeras, Pak Edi tidak boleh diobatkan ke dokter Ridwan. Karena menganggap dokter Ridwan itu sombong. Lina menginginkan Pak Edi tetap di RS, meskipun untuk biayanya berhutang.

Diam- diam dokter Ridwan sering menemui Pak Edi, dan Bu Marli, kebetulan Pak Edi dirawat di RS tempat dokter Ridwan bekerja. Dokter Ridwan mencoba membantu keluarga Lina dengan menguruskan BPJS Kesehatan. Agar biaya pengobatan Pak Edi bisa diminimalisir. Namun dokter Ridwan, kesulitan untuk mendapatkan photo dan KTP Lina sebagai persyaratan. Karena dokter Ridwan masih belum bisa komunikasi yang baik dengan Lina. Satu- satunya cara agar dia dapat KTP Lina, yakni memfoto dan mengambil KTP Lina untuk difotokopi saat tertidur di kursi tungggu Rumah Sakit. Dari sini dokter Ridwan mengamati sosok Lina sebenarnya cantik. Namun sikapnya yang judes membuat aura kecantikannya tertutup.

Lina bingung mencari uang, karena banyak tagihan hutang yang jatuh tempo. Hal ini membuat aset kekayaan Keluarga Lina habis dan bangkrut. Mau tak mau Pak  Edi pun harus dipulangkan secara paksa. Akan tetapi saat hendak menuju kediaman Pak Edi, dokter Ridwan melihat di tepi jalan Lina sedang digiring polisi karena telah ketahuan ikut judi. Lina tidak bisa dipulangkan karena tidak bisa menunjukkan KTP nya. Dokter Ridwan berusaha membantu membebaskan Lina, dia mengaku sebagai Tunangan Lina. Dan dia bisa meyakinkan polisi, karena bisa menunjukkan KTP Lina. Karena KTP Lina waktu itu diambil saat keperluan BPJS Kesehatan.

Lina ikut naik mobil dokter Ridwan, di dalam mobil Lina marah karena KTP itu diambil oleh dokter Ridwan. Lina minta turun di jalan, namun dokter Ridwan mencegahnya. Karena dokter Ridwan juga mau ke rumah Lina. Untuk mengantar BPJS Kesehatan yang sudah jadi. Dia pun meminta maaf, karena lancang mengambil KTP Lina. Hening sejenak, Lina juga meminta maaf karena sudah marah- marah. Dan berterimakasih, dokter Ridwan mau bersusah payah membantu menguruskan BPJS Kesehatan keluarganya.

Semenjak saat itu, Lina dan dokter Ridwan makin akrab. Karena intensitasnya pertemuan mereka, maka tumbuhlah benih- benih cinta di antara keduanya. Namun hubungan mereka terkendala oleh Orangtua Ridwan yang tidak menyetujuinya. Mengingat latar belakang Lina dari Kampung Joker. Lina pun pasrah, dan dia pun merasa memang tak pantas berhubungan dengan keluarga Ridwan yang alim dan terpandang.

Lina kembali ke Kampung Joker, di satu- satunya warung yang tersisa asetnya yang di miliki. Dia berinisiatif membuat kampungnya yang unik dan beda. Dia rekrut mantan penjudi di kampungnya sebagai barista dan pemandu wisata.  Lina pun berusaha merubah imej Kampung Joker yang orangnya suka judi dan mabuk- mabukan menjadi kampung yang menyenangkan. Dan orang- orangnya menjadi giat bekerja, dan lebih taat beribadah. Pak Edi pun sudah bisa berjalan dan berbicara, setelah lama mengidap penyakit stroke. Pak Edi ikut menata warung keluarganya menjadi sebuah cafe yang ciamik. Warga kampung Joker berduyun- duyun ke klinik dokter Ridwan. Meminta dokter Ridwan untuk ke kampung mereka. Dokter Ridwan pun panik, dikira ada pasien yang tidak bisa diantar ke klinik, sehingga harus dijemput. Kebetulan orangtua dokter Ridwan sedang berkunjung ke klinik, mereka pun kemudian ikut ke Kampung Joker.

Ternyata warga, mengajak, dokter Ridwan ke sebuah Musallah. Mereka ingin dokter Ridwan meresmikan  musallah yang diberi nama Ar- Ridwan tersebut. Sebagai ucapan terimakasih kepada sang dokter, yang tak pernah bosan membimbing warga dan mengingatkan untuk berhenti berjudi dan mabuk- mabukkan. Warga kampung tersebut, juga mengatakan inisiatif membuat musallah ini juga atas usul Lina anaknya Pak Edi. Lina terlihat menggunakan hijab dan cantik sekali. "Dan Insya Allah ini halal dari jerih payah kami, dari hasil kerja kuli, buruh dan jualan," ucap seorang warga. Ayah dokter Ridwan yang ikut peresmian Musallah pun, kemudian nyeletuk. "Nah kalau tahu gini kan, kita ga bisa menolak si Lina jadi Mantu," ucap Ayah dokter Ridwan. Warga pun kegirangan, dokter Ridwan dan Lina terlihat saling pandang dan tersenyum.

-   SEKIAN -
SINOPSIS INI SUDAH DIPRODUKSI OLEH STARVISION DAN TAYANG DI SCTV






Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.