IKLAN

Siti Al-Muhajirin "Ibu Rumah Tangga Aktif Melakoni 4 Profesi Sekaligus Dalam Waktu Bersamaan"


Siti Al-Muhajirin, seorang ibu rumah tangga kelahiran 24 Desember 1992 yang mengawali karier sebagai penulis novel. Buku pertamanya berjudul Manhattan in Love. Tak hanya itu saja, ia pun aktif menulis artikel di beberapa media. Ia juga mendirikan grup menulis dan penerbit indie yang diberi nama 'Komunitas Menulis Cerdas'. Kemudian, pada Januari 2019, Siti resmi menjadi editor AT Press Sumatera.
Siti menekuni banyak profesi dalam waktu bersamaan. Kerena, kan? Semua orang bisa seperti beliau. Nah, yuk, simak giat sukses ala Siti Al-Muhajirin.

Bagaimana sih awal Siti tertarik terjun ke dunia literasi?

"Berawal dari ketidaksengajaan pas nemu situs wattpad. Dari sana gue mulai menjelajah, banyak cerita yang masuk library. Nah, niat nulis muncul pas cerita yang gue baca itu dibukuin. Kok kayak ada dorongan pengen gitu juga. Kayaknya keren ada keterangan 'cerita akan diterbitkan'," ungkapnya. 
Siti juga bercerita pengalaman jatuh bangunnya untuk melahirkan novel perdana—Manhattan in Love. Pertama, ketika ia mencoba mengirim novel ke tiga penerbit raksasa. Namun, ia tak kunjung mendapatkan kabar atas nasib naskah tersebut. Itu menjadi pemicu rasa penasaran, apa kesalahan naskahnya?
Rasa penasaran itulah, membuat Siti rajin memasuki grup-grup kepenulisan. Kemudian mentalnya diuji, ketika novel perdana tersebut dikritik habis-habisan oleh senior. Ada yang mengatakan tak layak terbit dan sebagainya. Namun, hal itu tak membuat Siti down. Ia semakin semangat belajar, mulai dari menelusuri google mengenai teknik menulis dan meminta ulasan ke senior. Semua kritikan ia catat dalam buku. Sampai akhirnya, novel Manhattan in Love melewati revisi sebanyak sepuluh kali. Wow, luar biasa, bukan? Tidak hanya sampai di sana, Siti mengendapkan novel itu dan beralih menulis artikel. Lalu, tiba-tiba saja novel tersebut dilamar oleh Ujwart Publisher. Inilah penampakan covernya.

Keren, ya. Usaha memang tak pernah mengkhianati hasil.

Rintangan saat membangun grup/komunitas menulis, bangun penerbitan dan menulis artikel.

Bukan hanya sebagai penulis, Siti juga owner dari grup kepenulisan Kelas Menulis Cerdas. Jika dilihat sekarang, memang KMC sudah memiliki nama. Terbukti dengan beberapa alumninya yang bahkan sekarang bisa mendapat penghasilan sendiri setelah lulus. Namun, tidak segalanya berjalan dengan lancar. Selalu ada rintangan dalam menekuni bidang apa pun. Siti pun menceritakan sejarah lahirnya KMC (Kelas Menulis Cerdas). 
"KMC ini awalnya cuma obrolan ringan gue ama Zya (Sozya Twidara). Dia suka sharing dan gue suka ngegrup, lalu jadilah KMC. Admin seadanya juga, intinya motivasi gue ama Zya itu pengen berbagi. Karena gue tahu gimana susahnya cari ilmu dari orang-orang yang pelit dan sok jual mahal," ucapnya sambil mengenang masa itu.
Ketika grup sudah terbentuk, sayangnya ada saja member yang kurang serius dalam belajar. Paling menyakitkan ketika menemukan seseorang yang nyaman membantu KMC, kemudian dia mengundurkan diri begitu saja. Di sini kesabaran Siti diuji. Ia selalu mengatakan bahwa dalam berkomunitas sangat perlu menekan ego dalam diskusi antar admin grup. Hal itu pun membuahkan hasil, KMC semakin banyak peminatnya. Sukses dengan grup kepenulisan, membuat Siti mendirikan sebuah penerbitan.
KMC Publisher pun mendapat banyak ujian. Mulai dari meyakinkan calon penulis menerbitkan di KMC dan dicurigai menggunakan ISBN palsu. Kemudian ada juga yang mengatakan karyawan bekerja lambat, padahal penulis minta terbit cepat. Saat buku kurang laku pun, ia harus memutar otak agar tidak 'nombok'.
Selain tentang KMC, Siti juga menceritakan pengalamannya selama menjadi penulis artikel. Ketika bayaran macet padahal ia sedang butuh uang. Caranya mengatasi semua rintangan yaitu dengan sabar dan ikhlas. Kata mentornya 2 hal itu merupakan senjata ampuh untuk menghalau kegalauan.

Pilihan Siti.

Saat ditanya, "Kalau disuruh memilih salah satu antara jadi editor, penulis, mengurus KMC atau penerbitan, kamu akan memilih yang mana? Alasannya apa?"
Siti menjawab, "Duh sulit, tapi kalau beneran kudu milih gue mending penerbitan. Dari sini gue bisa jadi editor juga, bisa manfaatin skill ngartikel buat branding, bisa sekalian nulis lalu terbit sendiri. All in one."

Gimana menurut kalian? Seru kan menyimak pengalaman Siti? Beliau juga berpesan kepada Dedek Gemes—penulis pemula. "Pesan buat dedek gemesh. Jangan cepet puas dengan satu karya, jangan terbang terlalu tinggi dengan satu pujian. Karena banyak pujian yang akhirnya akan membuatmu terjatuh. Terus belajar, sabar dan ikhlas."
Semoga kisah Siti dapat menginspirasi pembaca JPI. Akhir kata, sampai jumpa di artikel berikutnya.

Curriculum Vitae Siti Al-Muhajirin.

Posting Komentar

0 Komentar