KURSI RODA OMA

Seusai menggelar peringatan seratus hari meninggalnya Oma, rumah besar itu kembali sepi. Satu persatu anak cucu dan kerabat angkat kaki. Kembali pada habitatnya semula seolah tak ada kenangan yang layak menjegal kaki-kaki panjang penyongsong harapan. Begitu pun aku tak berniat menambah waktu kunjungan. Pekerjaan selalu dijadikan kambing hitam. Tetapi semua orang merdeka dengan dalihnya. Bila harus jujur, aku malas datang ke Solo jika bukan Tante Ria yang memaksa. 
“Ayolah! Perwakilan saja” pintanya saat bicara di telepon.

Tante Ria berbeda dengan Oma. Perangai lembutnya cukup sukses menyatukan turunan Oma semisal acara sakral tadi malam meski yang hadir tak semua memboyong keluarga komplitnya. Anak cucu dan kerabat Oma kebanyakan tinggal di sekitaran Jawa Tengah dan Jawa Timur. Hanya keluargaku dan Om Didi yang menetap di Jakarta.

Benar kata Tante, rumah sebesar itu terlalu lapang untuk ditinggali dua orang saja. Sayangnya sampai detik ini belum terjadi kesepakatan dikarenakan penawaran terlalu tinggi. Aku berharap rumah itu segera laku sehingga urusan pembagian warisan menjadi beres. Sebab jika semua doaku makbul, aku akan leluasa berkunjung ke rumah baru Tante Ria tanpa terbebani oleh kebencian.

Tentang rumah besar itu, ada beberapa potong kenangan masa kecil yang coba kulupakan. Perpaduan warna tegas dengan putih tulang pada cat dindinnya menandakan karakteristik si pemilik. 

Bagiku rumah bergaya semi joglo itu terlalu sesak ditinggali mengingat hubungan buruk dengan mendiang di masa hidupnya. Oma bertabiat keras. Setiap kata yang terucap dari bibir merahnya ibarat biji cabe yang telah matang sempurna. Pedas. Di sisi lain, sosok wanita Jawa begitu melekat di diri Oma yang sangat menghormati adat budaya melebihi kecintaannya pada keluarga. Menurutnya keluarga yang baik adalah mereka yang menjunjung tinggi adat sebagai identitas. 

Suatu hari ketika umurku beranjak remaja, aku mengetahui sebuah kebenaran. Alasan kebencian Oma terhadap Ayah. Kesalahan Ayah adalah ... karena terlahir sebagai lelaki Minang (Pariaman) yang dalam adatnya identik dengan uang jemputan. Dalam adat yang dipercaya Oma, perempuanlah yang harus ditinggikan dan dimuliakan. Kurangnya pemahaman Oma menempatkan Ayah sebagai menantu tak dianggap. Sejak itu aku memutuskan tinggal di Jakarta menemani Ayah.
***
“Tinggallah beberapa hari lagi! Tante masih kangen kamu, Fika.” 
“Aku juga kangen tapi tetap tak bisa, Tante” aku menghentikan langkahku dan membetulkan posisi tali ransel. Pilar-pilar bangunan tampak megah dengan pahatan keemasan di ujung-pangkalnya. Udara pagi cukup sejuk lantaran beberapa pohon Tanjung merindangi pekarangan. Aku mendengar suara-suara alam yang tak kutemukan di Jakarta.
“Sejak Oma tak ada, Tante merasa serba sendiri”
“Bukannya ada Alfin?”
“Sama saja. Dia tak betah di rumah, pulang sekolah kerjanya keluyuran. Katanya ikut turnamen”
Sepupuku Alfin hobi bersepeda. Tak jarang ia habiskan waktu di luar demi kesenangannya dan hal itu jelas membuat tante kesal.  
“Nggak apa-apa kan kamu bawa ini, sekalian pulang?” mataku tertuju pada benda terkutuk yang di bawa Alfin dari dalam. Benda yang jadi penghuni gudang selama seratus hari terakhir. Dimana mozaik kepedihan terpahat pada jari-jarinya. 

Mengingat rumah Ayah dan Om Didi berdekatan, Tante Ria melimpahkan benda yang telah diikat itu padaku. Satu-satunya peninggalan Oma yang tak masuk hitungan pembagian warisan. Semua anak dan menantu menghendaki kursi roda itu tetap di rumah. Mereka sepakat menyimpannya sebagai satu peninggalan yang kelak akan berguna. Dan benar adanya, Om Didi tak bisa hadir karena serangan jantung yang mengakibatkannya mengalami stroke.
 Apa yang bisa kuperbuat? Hatiku ingin menolak namun kalimat penolakan tersangkut di dinding rahangku. Matahari kian menanjak. Mozaik kepedihan bersenandung sumbang sepanjang jalan. Seperti dawai yang tak ingin dipetik tuannya.
“Lebih baik kamu jaga jarak. Jangan terlalu dekat dengannya. Lelaki itu hanya membawa pengaruh buruk”
“Jangan berkata seolah dia asing bagimu. Lelaki itu punya nama dan dia ayahku”
Oma geram. Matanya serupa burung elang yang siap mencabik mangsa. 
“Kenapa tak pernah mau mengerti?”
“Apa yang harus kumengerti? Apakah sebuah kesalahan jika seorang anak memutuskan tinggal bersama ayahnya?” 
“Lelaki itu penyebab ibumu pergi”
“Ibu meninggal karena dijemput takdirnya” aku tak mau kalah.
“Keras kepala!” 
Itu puncak kemarahanku. Oma tega menuding Ayah sebagai penyebab kematian Ibu padahal semua itu murni kecelakaan. Aku dan Ayah korban selamat dari insiden maut yang terjadi dua puluh tahun lalu saat sebuah truk ugal-ugalan menubruk bagian depan sedan yang Ayah kemudikan. Kala itu usiaku masih empat tahun. Aku dapat merasakan penderitaan Ayah yang harus melewatkan hari-harinya tanpa Ibu dan aku karena Oma mengambil alih haknya untuk membesarkan dan mendidikku.
***
“Mbak, sudah sampai” di antara keramaian terminal Tirtonadi kudengar anak tunggal Tante Ria mengingatkanku. Ia memarkir motornya di depan pintu masuk. Aku sengaja memilih naik bus dibanding harus menunggu lama demi mendapat tiket kereta.
“Oh ... iya” aku menurunkan kursi roda dari pangkuan.
“Mari kubantu!” Alfin menawarkan diri.
“Terima kasih. Kudengar kamu suka balap sepeda?”
“Iya, Mbak. Malahan besok ada turnamen” 
Aku manggut-manggut. “Besok? Lah kamunya malah ke sini, Mbak jadi nggak enak pake diantar segala. Terus kapan latihannya?”
“Tenang saja, Mbak. Aku tak jadi ikut” wajah Alfin mendadak tak bersemangat.
“Kenapa?”
“Ya mau gimana lagi wong sepedaku rusak jadi tak bisa dipakai latihan. Ibu juga tidak memberi uang perbaikan. Katanya habis buat acara peringatan kemarin”
“Memang berapa biayanya?”
“Aku kurang tahu, Mbak. Yang pasti lumayan banyak”
Sejenak aku merenung. Suhu udara terasa panas dan kering. Sesepoi angin menerbangkan butiran pasir ke arah mataku. Secara spontan ujung telunjukku mengorek sudut mata terluar.
“Kamu masih berminat?” Aku menyodorkan kursi roda oma pada Alfin. 
“Tentu, tapi kan ... Ini apa maksudnya?” Alfin bingung. 
“Aku nggak tahu berapa harga kursi roda ini. Bisa jadi menutupi biaya perbaikan sepedamu, Fin” taksirku sekenanya. 
“Tapi Mbak ....”
“Mengenai Om Didi? Kamu jangan kuatir! Dia punya banyak simpanan bahkan untuk membeli dua buah kursi roda sekaligus uangnya tak akan habis.” Batinku ini hanya antara kita berdua.
Remaja SMU itu tampak ketakutan. “Bagaimana kalau Ibu bertanya?” 
“Kamu jual saja, tak usah bilang ibumu. Aku punya alasan kalau Om Didi dan ibumu bertanya" 
Nanti kubilang di bis ada perampokkan dan kursi roda itu diambil para perampok. Batinku. Mengapa aku selancang ini? Begitu besarkah kebencianku terhadap Oma?

Alfin pamit membawa kursi roda itu dan aku lega tak jadi direpotkan benda yang selama perjalanan ke Jakarta dipastikan akan mengingatkanku pada rasa sakit. Lagi pula aku tak mau ke rumah Om Didi. Terlepas dari kondisinya saat ini, sikapnya mengingatkanku pada Oma. Memang tak semenyebalkan Oma. Cuma aku kurang simpati oleh sikap tinggi hatinya. 
Sepuluh menit kemudian Bis Rosalia Indah melaju membelah jalanan kota Solo. Aku duduk di barisan tengah. Memasang handsfree di kedua kupingku agar tertidur lelap diiringi alunan lagu. Belum jauh dari Solo, dimana aku meletakan kebencianku pada sebuah rumah, bis mendadak oleng. Kurasakan getaran hebat menghantam bibir dan badan bis yang kutumpangi. Menghadirkan paranoia yang sama dengan kejadian dua puluh tahun ke belakang. Penumpang histeris termasuk aku. 
Dunia pun terasa berputar kasar di kepala. Sebuah kejatuhan yang membawa pada perjalanan memeras energi sekaligus pengingat seberapa tingkat keimananku. Sapuan angin keras membanting hingga kurasakan remuk redam di sekujur tubuh. Lalu berhenti. Mungkin ia lelah dengan permainan mautnya atau barangkali iba terhadapku yang tampak begitu nelangsa. Napasku setengah lepas. Kulihat semak dedaunan bermetamorfosa jadi merah bahkan tanah pembaringanku basah oleh cairan itu. Wajah Ibu berjarak dekat dari wajahku. Mengingatkanku akan dosa-dosa terhadap Oma. Lalu aku tak merasakan apa-apa lagi. Perjalanan ini masih jauh tapi aku yakin berujung pada kepulangan. Entah pulang untuk kembali atau pulang untuk pergi. Tetapi wajah Ayah sangat cemas menantiku di rumah.
“Seharusnya Ayah bilang pada Oma kalau kursi roda itu pemberian Ayah”
“Untuk apa? Kebaikan tak perlu diumbar”
“Supaya dia tahu diri. Orang yang paling dibenci ternyata paling peduli” aku tak habis pikir mengapa Ayah tak mau jujur. Orang-orang terlanjur tahu kursi roda itu dibeli dari sumbangan anak-anaknya Oma. Ayah meminta Tante Ria menyembunyikan ini dari Oma dan saudara lainnya hingga napas berhenti di tenggorokan, perempuan sepuh nan angkuh itu tak tahu. 
***
Wajah Ayah pertama kulihat di tepi ranjang sebelah kiri. Tatapannya memancarkan kecemasan mendalam. Tante Ria berdiri di sebelahnya. Menyambutku dengan tatapan yang tak jauh beda. Alfin duduk di sofa seperti sedang menekuri sesuatu. Lalu pandanganku beralih ke sebuah benda yang  menganga di dekat pintu. 
“Mengapa kursi roda itu masih di sini?” tanyaku setengah tak percaya.
“Om Didi tak jadi memakai kursi roda itu. Kamu jauh lebih membutuhkannya, sayang” sahut Tante Ria sedih. Dan aku baru sadar, saat Alfin tak berani menatapku, tak kurasakan apapun di kedua kakiku. 
***

Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.