Metamorfosis Berliku Arsha Teen Menjadi AT Press


Penerbit indie menjadi bagian yang cukup diperhitungkan dalam dunia literasi. Apalagi geliat penulis pemula yang mulai menunjukkan eksistensi dan mencari muara untuk menunjukkan karya tulisnya. Penerbit mayor cenderung lebih sulit ditembus oleh penulis pemula. Maka penerbit indie menjadi salah satu sarana untuk mewujudkan mimpi penulis pemula yang ingin memiliki karya.
Ariny NH, pemilik Arsha Teen yang kini bernama AT Press
Ariny Nurul Haq atau yang lebih dikenal dengan nama Ariny NH membaca peluang ini dengan baik. Ia yang juga seorang penulis, merasa perlu ikut serta dalam mengembangkan bakat-bakat penulis pemula. Kegigihannya dalam mendirikan penerbit indie dengan nama Arsha Teen berawal dari tawaran seorang teman di tahun 2014.
“Awalnya teman facebook yang menawarkan membuka lini dari penerbit Pena House. Sejak 2013 memang sudah punya impian memiliki penerbit sendiri, agar menjadi pengusaha. Cita-cita menjadi pengusaha karena nenek juga seorang pengusaha intan dan berlian. Maka tawaran itu seperti angin surga,” cerita Ariny melalui pesan singkat.

Ariny dan kisah Arsha Teen
Nama Arsha Teen menjadi simbol pengukuhan Ariny sebagai pengusaha penerbitan indie. Ia tidak diharuskan menyetorkan uang atau membayar untuk menjadi lini dari Pena House. Tapi status lini membuat Ariny harus tunduk pada kebijakan penerbit Pena House sebagai penerbit induk. Ariny hanya diberi wewenang untuk menangani naskah dengan genre remaja dan young adult. Hal ini berpengaruh pada naskah-naskah terbitan Arsha Teen yang hanya menerbitkan novel dengan genre tersebut.

Arsha Teen mendapat pengakuan dari Pena House dengan dimasukkan sebagai lini di akta notaris milik Pena House. Walaupun Arsha Teen secara gratis menjadi lini Pena House, tapi Arsha Teen tetap berkewajiban membayar untuk pengurusan ISBN. Biaya dikenakan untuk per judul yang diajukan oleh Arsha Teen. Tanggal 11 November 2014, Arsha Teen milik Ariny akhirnya resmi berdiri.

Ariny bertekad membuat Arsha Teen berbeda dari penerbit lini umumnya. Ariny tidak hanya ingin sekadar menerbitkan naskah dari penulis, tapi ia bertekad memberikan ilmu tentang teknik menulis yang baik dan benar bagi penulis pemula. Sehingga para penulis memiliki ilmu yang dapat membuat karya selanjutnya lebih bagus dari sebelumnya.

Pada awal berdirinya, Ariny melakukan semua bagian dari Arsha Teen. Dia menjadi editor, penata letak, dan juga pendesain sampul naskah yang akan di terbitkan. Hal ini terjadi karena Ariny belum sanggup membayar karyawan untuk membantu mengelola Arsha Teen.

Lika-liku perjuangan Ariny dengan Arsha Teen bukan sekadar cerita mengerjakan semua hal sendiri. Tapi juga tentang penjiplakan konsep yang dibuatnya untuk Arsha Teen, penipuan oleh percetakan yang sangat merugikan, dan juga cerita pahit ketika Ariny menggunakan uang pribadi untuk menutupi keuangan Arsha Teen. Tapi semua kisah pahit itu tak membuat Ariny menyerah, ia terus berjuang untuk membesarkan nama Arsha Teen.

Keseriusan Ariny membuat banyak penulis pemula yang mempercayakan naskah-naskahnya pada Arsha Teen. Jumlah naskah yang berhasil di terbitkan dibawah bendera Arsha Teen mencapai ratusan. Apalagi program-program yang dikeluarkan Arsha Teen terkenal fenomenal dan mengasyikkan. Sebut saja TAT dan ABNT yang berhasil menelurkan banyak naskah.

Ariny dengan tangan dinginnya membimbing satu persatu penulis yang masuk ke dalam usaha penerbitannya. Gaya membimbing Ariny yang tegas, ceplas ceplos, dan cenderung bawel membuatnya mendapat julukan “ibu kost” oleh penulis yang bergabung di Arsha Teen. Gaya Ariny ini yang disukai oleh penulis-penulis yang bernaung di Arsha Teen.

“Saya dan penulis itu sudah seperti saudara, kakak adek, emak anak, saking dekatnya. Saya hafal semua karakter dari penulis dan naskah-naskah yang diterbitkan di Arsha Teen,” jelas perempuan penggemar Pasha Ungu ini dengan sumringah.

Kesuksesan Ariny mengibarkan Arsha Teen, selain membawa dampak pada penulis pemula juga pada kehidupannya. Pundi-pundi uang perlahan tapi pasti terkumpul di kantongnya. Ariny menjadi pengusaha dan juga penggiat literasi yang sukses dengan bidang penerbitan indie.

Hampir dua tahun Arsha Teen berkibar, badai datang menghantam. Akun Arsha Teen di PNRI dikunci. Selidik punya selidik, ternyata Arsha Teen tidak tercantum dalam akta notaris Pena House. Hal ini diperburuk dengan berhentinya Pena House mengirimkan buku-buku bukti cetak ke Perpusnas. Ariny marah, ia merasa ditipu dan dikurangi oleh Pena House.
“Arsha Teen keluar dari lini Pena House dan bekerja sama dengan Multisia Tenan Jaya. Masih dengan sistem yang sama ketika berkerja sama dengan Pena House. Hanya saja Multisia lebih longgar dan tak banyak menuntut,” jelas Ariny mengenai keputusan yang sangat besar dalam perkembangan Arsha Teen.


Langkah Nekad Ariny Mengubah Arsha Teen
Awal tahun 2018, adalah langkah awal besar bagi Arsha Teen. Ariny memutuskan berdiri sendiri tanpa ada embel-embel bekerja sama dengan penerbit induk mana pun. Bukan hanya keputusan berdiri sendiri yang terjadi pada Arsha Teen, Ariny nekad mengubah nama Arsha Teen menjadi AT Press. Alasan Ariny mengubah nama ini karena ia merasa nama Arsha Teen mengingatkannya pada pengalaman buruk dan pahit. Ia tak ingin mengingat pengalaman buruk itu dan ingin memulai sesuatu yang baru dan lebih segar.

Ariny dengan mantap mendaftarkan AT Press sebagai perseroan komanditer dengan akta yang dikeluarkan olah notaris Rosnilawati, S.H., M.Kn. Pendaftaran ini juga yang membuat Ariny mengubah logo Arsha Teen menjadi AT Press. Logo ini yang sempat menjadi perhatian banyak pihak.
“Konsep logo AT Press sendiri berasal dari Pimred Shadow, sebut saja pacar saya ya. Cincin sebagai simbol pengikat dan hati sebagai simbol cinta. Saya ingin penulis yang bernaung di AT Press terikat karena rasa cinta, kepercayaan, dan kejujuran kami,” jelas perempuan manis yang ingin segera berkunjung ke Solo, tanah kelahirannya.
Ariny NH di tengah kesibukan wawancara sebagai penulis sekaligus pengusaha penerbit indie
AT Press masih meneruskan sistem Arsha Teen, Ariny menyebutnya dengan penerbit indie rasa mayor. Di mana para penulis akan diberi kontrak dan pelayanan setara dengan penerbit mayor jika naskahnya memiliki genre menarik, cerita unik, dan juga tanpa kekurangan. Untuk pelayanan ini Ariny melalui membebaskan biaya terbit alias gratis.

Beberapa hari setelah penggantian nama dan pendaftaran akta notaris, Ariny langsung membuka 6 cabang usahanya di beberapa daerah. Enam cabang AT Press yang sudah berdiri antara lain cabang Sumatera, cabang Bangka, cabang Jabodetabek, cabang Solo, Cabang Surabaya, dan cabang Makassar. Setiap cabang memiliki pimpinan redaksi sendiri, tapi tetap menginduk pada kantor utama yang dipegang Ariny. Pembukaan cabang di beberapa wilayah ini di harapkan Ariny dapat mempermudah penulis untuk menerbitkan karyanya dan juga melatih anak-anak muda untuk menjadi pengusaha penerbitan. Enam cabang yang baru dibuka Ariny pun sudah mulai menggeliat dengan mengadakan lomba-lomba menulis.
Salah satu lomba menulis dari AT Press Cabang Makassar
Perempuan kelahiran Solo 26 tahun lalu itu berharap AT Press membawa perubahan yang baik di dunia penerbitan indie. Serta turut andil menumbuhkan bibit-bibit penulis yang akan memajukan dunia literasi di Indonesia.#tia

Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.