Jamilah, Penjaga Toko Yang Jatuh Cinta Pada Menulis

Cerita perkenalan Jamilah pada dunia menulis sangat unik. Ia sama sekali bukan seseorang yang dekat dan akrab dengan dunia menulis. Ia juga tak memiliki puluhan buku yang menjadi bukti hasil karyanya. Ia tak pernah mengikuti lomba menulis yang berseliweran di media sosial. Ia juga tak pernah membuat cerpen atau puisi di halaman buku sekolahnya. Jamilah bisa dibilang awam dalam dunia tulis menulis. Tapi tekad kuat justru membuatnya menjadi penulis cerita film televisi (FTV).
Perkenalan Jamilah dengan dunia menulis diawali dari kecintaannya pada Grup Band Ungu. Saat itu Jamilah menonton film Purple Love milik Ungu. Pulang dari menonton itu, ia terinspirasi dan ingin membuat film Purple Love ke-2 yang sesuai dengan imajinasinya. Padahal saat itu, ia belum pernah menulis apapun dan tidak tahu bagaimana sebuah film diproduksi. Tapi Jamilah bertekad sekuat baja untuk belajar. Ia mulai mencari cara bagaimana agar bisa mewujudkan mimpinya tersebut.

Dara kelahiran 5 September 1997 itu mulai mencari di mesin pencari tentang cara membuat film dan hal-hal yang berhubungan dengan perfilman. Dari hasil mencari itu, Jamilah menemukan bahwa ia harus belajar membuat sinopsis sebelum membuat skenario. Maka, Jamilah mulai menulis sinopsis. Tanpa ada pelatihan, tanpa ada teman. Bahkan keluarganya sendiri tidak tahu bahwa ia sedang belajar menulis. Hanya kakak perempuan Jamilah yang tahu bahwa ia sedang belajar membuat sinopsis.

“Saya bisik-bisik sama teteh. Bilang mau belajar bikin sinopsis untuk cerita kayak di televisi-televisi seperti itu. Respons teteh sangat baik. Teteh dan suaminya sampai mencicil laptop untuk saya. Saat itu saya enggak bisa menulis di handphone, soalnya handphone saya jadul,” kenang Jamilah kembali menceritakan kisahnya.

Setelah mendapat modal laptop dari sang kakak, Jamilah mulai menulis sinopsis. Ia belajar dengan panduan dari mesin pencari yang didapatnya. Sinopsis yang berhasil dibuat, langsung ia kirimkan melaui email ke PH yang alamatnya didapat dari media sosial. Tapi semua sinopsis yang dikirimnya tak ada balasan, Jamilah merasa gagal membuat sinopsis.

Suatu hari seseorang yang mengaku dari Trans Tv menghubunginya. Jamilah bersemangat kembali, tapi orang tersebut meminta Jamilah mengirim sejumlah uang agar sinopsis yang dibuat Jamilah bisa diluluskan. Meski tak tahu dunia pertelevisian Jamilah menolak untuk mengirim uang yang diminta. Selain karena tidak punya sejumlah uang diminta, Jamilah tidak percaya dengan iming-iming yang ditawarkan.

Sinopsis tak ada kabar dan hampir ditipu membuat Jamilah memutuskan untuk mencari pembimbing dalam belajar. Gadis berzodiak Virgo ini kembali ke mesin pencari dan mencari orang yang bisa mengajarinya. Saat itu, ia menemukan nama Endik Koeswoyo. Jamilah mulai menghubungi Endik melalui media sosial. Ia banyak bertanya dan berdiskusi dengan Endik. Sampai akhirnya, Endik memasukkan Jamilah ke grup chat Jaringan Penulis Indonesia.

“Om Endik itu enggak sombong. Setiap saya DM, nanya ini itu dan segala macam, pasti dibalas. Sampai Om Endik memberi nomor whatsapp dan menyuruh saya bergabung ke grup chat di whatsapp.”

Jalan Jamilah semakin terbuka lebar. Ia belajar bersama-sama dengan anggota Jaringan Penulis Indonesia lainnya melaui chat grup. Beberapa sinopsis pernah Jamilah kirim, tapi saat itu masih ditolak oleh Endik. Jamilah tak berhenti menulis dan terus mengirim tulisannya.
FTV hasil ide cerita Jamilah.
Pertengahan Februari menjadi tonggak sejarah bagi proses yang dilalui Jamilah. Sinopsis yang berjudul Miss Telat vs Mr. On Time lolos dan layak untuk ditayangkan.

“Ide cerita Miss Telat vs Mr. On Time sebenarnya terlintas saat saya sedang mencuci piring. Saat itu terpikir bagaimana jika menulis cerita tentang orang yang suka telat bertemu dengan orang yang on time banget. Kayaknya bakal seru. Eh, ternyata benar. Sinopsis langsung lolos, meski harus revisi judul satu kali,” ujar perempuan yang kini bekerja sebagai penjaga toko di daerah Kronjo, Tangerang Selatan ini.

Setelah FTV pertamanya tayang, Jamilah baru berani membuka diri pada keluarga bahwa ia menulis sinopsis. Jamilah mengaku bahwa dirinya kurang percaya diri jika mengatakan sedang mengerjakan sesuatu tapi belum ada hasilnya. Apalagi dirinya juga memiliki kekurangan fisik yang terkadang membuatnya rendah diri. Tapi dengan keberhasilannya membuat sinopsis membuat percaya dirinya jauh lebih baik. Ia merasa dapat membuktikan bahwa kekurangan fisik tidak akan menghambat apapun dalam hidupnya.

Tahun ini Jamilah menargetkan akan membuat lebih banyak sinopsis. Ia ingin memberangkatkan kedua orang tuanya umroh dan membangun sebuah rumah dari hasil menulis sinopsis yang ditekuninya. Ia membagi waktu dengan baik agar pekerjaannya sebagai penjaga toko dan menulis tidak membuat salah satunya di anak tirikan.

Saat ditanya apakah Jamilah berniat menulis puisi, cerpen atau novel. Ia menjawab hanya akan menulis sinopsis. Ia sudah jatuh cinta dengan menulis sinopsis dan merasa nyaman dengan menulis sinopsis. (Tia)

Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.