CINTA YANG DIDUSTAKAN (5) Oleh Dewy Rose.


Sejak Dian sering menelepon, kami seolah-olah berada dekat seperti waktu dulu. Saat pertama aku menikah dengan Bang Ipul, Dian sering berkunjung pada waktu akhir pekan. Sampai aku melahirkan Aisyah dan tak lama kemudian Dian pun menikah dengan Anto, teman kuliahnya dulu dan pindah ke Surabaya. Karena memang Anto bertugas di sana dan Dian mengundurkan diri dari tempat kerja. Sejak saat itu, hanya sesekali saja kita bertukar kabar, sampai kemudian Dian melahirkan Dimas. Setelah itu Dian tak pernah ada kabar beritanya lagi dan  kini menghubungiku. Seminggu kemudian, Dian menelepon kembali.

“Assalaamu’alaikum, Mbak Dewi,”

“Wa’alaikumussalaam, ya Dian,” ucapku setelah menjawab salam.

“Bolehkah jika suatu hari Saya main ke rumah Mbak sambil membawa anak-anak?” tanyanya

“Silakan, Dian! Mbak senang jika kamu main ke sini seperti dulu, waktu kamu sering mengisi akhir pekan bersama,” jawabku penuh antusias

“Nanti kita bisa masak dan bikin kue bareng lagi, sambil tentunya anak-anak juga akan saling mengenal.” Sambungku lagi masih dengan nada antusias.

“Ya sudah, nanti jika ada waktu saya main ke sana, kirimkan alamatnya nanti ya, Mbak? Assalaamu’alaikum,” ucapnya sekalian mengakhiri percakapan kami.

“Wa’alaikumussalaam,” jawabku sambil menaruh handphone.

***

Hingga suatu hari ...
Tok! Tok! Tok!

“Ma! Ma!” Aisyah setengah berlari menuju ke dapur, sambil menarik tanganku mengajak ke depan.

“Assalaamu’alaikum!”

Rupanya ada seseorang, pantas Aisyah menarik lenganku menuju ke depan, batinku.

“Wa’alaikumussalaam! Sebentar,” jawabku sambil mengenakan hijab.

Setelah pintu terbuka ...

“Dian?”

“Ya, Mbak! Surprise!” katanya sambil tersenyum dan kami saling berpelukan melepas rindu.

Kemudian kami masuk, lalu segera aku menggelar tikar dan membuatkan minuman untuknya.
Sambil duduk dan minum kami berbincang-bincang, sedangkan Aisyah dan Friska bermain boneka bersama.

“Kapan Kamu datang dari Surabaya? Dimas tidak diajak?” tanyaku membuka obrolan.

“Sudah lama Mbak dan Dimas bersama neneknya,” Dian menjawab sambil pandangannya menuju kepada Friska.

“Friska cantik sekali, wajahnya mirip dengan dirimu. Bagaimana kabar Mas Anto? Dia ikut bersamamu ke sini?” tanyaku kembali sambil memandang ke arah Friska dan Aisyah yang sedang asyik bermain boneka.

Dian memandang ke arahku, kemudian menghela napas dan mengembuskannya perlahan. Tidak menjawab namun menghela napas kembali. Kucoba membaca raut wajahnya, sepertinya ada sesuatu yang tidak ingin dibicarakan mengenai Anto.

“Silakan diminum, Dian,” kataku mengalihkan pembicaraan.

“Bagaimana kabar Bang Ipul, Mbak?” Dian bertanya, sejurus kemudian.

“Bang Ipul sekarang lebih sering tugas luar kota, terlebih lagi setelah kami pindah ke sini,” ucapku sambil memandang wajahnya.

“Sekarang kegiatan Mbak di rumah saja?” Dian bertanya sambil berusaha mengalihkan perhatian, karena aku masih menatap wajahnya, seperti menyembunyikan sesuatu.

“Aku mengisi waktu dengan menulis sekarang. Bagaimana denganmu?” tanyaku masih dengan memandangi wajahnya.

“Eh! Saya hanya mengurus anak-anak saja di rumah, Mbak. Sudah azan, kita salat dulu,” jawabnya gugup sambil mengalihkan pembicaraan.

Setelah salat lalu kami makan bersama. Selepas itu tak ada percakapan pribadi lagi, karena kami sibuk dengan kenangan dahulu sewaktu sering membuat kue bersama.
Cukup lama kami berbincang, menjelang sore Dian berpamitan.

“Mbak, Saya pamit dulu sudah sore,”

“Kenapa tidak menginap saja, Dian? Bang Ipul juga sedang tugas keluar kota” kataku menawarkan padanya untuk menginap.

“Lain waktu nanti Saya kembali lagi ya, Mbak? Mungkin akan menginap,” jawabnya sambil tersenyum padaku.

Ah! Senyum itu ... Seperti menyimpan sesuatu, batinku sambil membalas senyumnya.

“Baiklah, hati-hati di jalan ya? Ini untuk membeli minum di jalan,” kataku sembari menyelipkan sedikit uang di saku baju Friska.

Setelah merapikan tas dan bawaannya, kemudian Dian menggendong Friska.

“Papah! Papah!” tiba-tiba Friska menangis sambil memanggil papahnya. Dian mencoba menenangkan Friska yang masih menangis dan meronta sambil memanggil papahnya, sementara tangannya sibuk menunjuk ke arah tembok. Di sana terpasang foto aku dan Bang Ipul serta Aisyah.

“Maaf, Mbak! Friska rewel, mungkin sedang ingat dengan Papahnya,” kata Dian sambil berjalan keluar
“Assalaamu;alaikum.” Sambil berjalan, Dian menutup pintu pagar bambu.

“Wa’alaikumussalaam!” jawabku sambil mengunci pintu kembali. Sementara masih kudengar Friska menangis memanggil papahnya.

DR.
Bekasi, 11 April 2018
14:14
Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.