Zahara Putri, Penulis Pendobrak Keterbatasan

Sebenarnya apa fungsi handphone? Meski pertanyaan ini sedikit menjengkelkan, karena setiap orang pasti mengetahui fungsi benda yang hampir tak pernah lepas dari tangan. Tapi saya benar-benar bertanya dengan serius. Menelepon, mengirim pesan, bersosial media, mengirim email, atau yang lainnya. Semua orang akan menjawab seperti itu, bukan? Tapi coba tanyakan pada Zahara Putri, perempuan kelahiran 4 Februari ini memiliki jawaban yang berbeda.
Zahara Putri
Jawaban yang mungkin akan membuat tertunduk malu. Handphone, benda mungil yang hanya terdiri dari beberapa tuts itu, memiliki fungsi lain bagi Zahara. Ia menulis jutaan huruf, hingga bisa membentuk ribuan kata, dan berakhir dengan ratusan lembar naskah. Naskah-naskah puisi, cerpen, dan bahkan sinopsis FTV di ciptakan dengan benda mungil yang besarnya tak lebih dari satu telapak tangan. Bagaimana bisa? Bagaimana mungkin?

Hanya orang bertekad baja yang mampu mendobrak keterbatasan. Lupakan segala macam alasan yang menjadi penghambat berkarya. Hapuskan segala keluhan yang membuat pikiranmu tak berkembang. Hilangkan merasa tak mampu. Karena kau hanya akan tertunduk malu ketika mengetahui seseorang di luar saja, justru menghasilkan puluhan buku hanya dengan handphonenya. Dia mungkin telah mengalahkanmu yang duduk di kursi empuk dengan laptop di dep
an mata, tapi tak menghasilkan apa-apa, selain nestapa.

47, Catatan Pendobrak
Empat puluh enam judul buku telah dihasilkannya sepanjang berkarier sebagai penulis sejak tahun 2011. Angka yang luar biasa, jika dibagi rata dalam setahun Zahara bisa menghasilkan 6 judul buku, bahkan ada yang dalam setahun menulis 7 buku. Dapat diartikan juga ia menulis satu buku dalam dua bulan. Penulis cantik asal Malang ini memang sangat produktif. Angka empat puluh enam itu adalah kumpulan seluruh karya Zahara, termasuk antologi di berbagai penerbit dan juga buku solo.

Menyebutkan satu-persatu buku antologi Zahara tentu akan sangat panjang. Tapi dari sekian banyak buku karyanya, Zahara sangat memfavoritkan buku yang berjudul Negeri Sejuta Fantasi. Kumpulan cerpen bergenre fantasi itu diterbitkan pada tahun 2012 oleh WR Publishing. Zahara memang menyukai genre Fantasi, jadi tidak heran ia sangat menyukai buku karangannya tersebut.
Negeri Sejuta Fantasi, salah satu karya Zahara Putri
Buku antologi kedua yang disukainya adalah Antologi Bakso “Arema” yang diterbitkan tahun 2014 oleh Aura Publishing. Alasan pribadi yang mendalam menjadi penyebab buku antologi ini disukai Zahara. Tapi biarkan alasan itu menjadi rahasia antara Zahara dan saya.
Antologi "Bakso" Malang, antologi penuh cerita dan cinta bagi Zahara
Selain antologi, Zahara juga memiliki tiga buku solo yang berhasil diterbitkan. Tiga buku tersebut masing-masing berjudul Senandung Cinta Sang Putri yang berupa kumpulan puisi, Secret Admirer dalam bentuk novel, dan kumpulan cerpen dengan judul Mantan Terindah. Mantan Terindah menjadi pembuktian diri bahwa Zahara memiliki kualitas yang tak bisa dipandang sebelah mata. Kumpulan cerpennya tersebut berhasil mendobrak pintu penerbit mayor. Pencapaian yang selalu diimpikan setiap penulis pemula.

Mantan Terindah selalu membawa suasana berbeda bagi Zahara. Kumpulan cerpen itu selalu membawa haru dan tak bosan meski dibaca berulang kali. Mungkin karena Zahara mencurahkan segala rasa dalam buku tersebut dan mungkin juga buku ini menjadi pembuktian pada keluarganya bahwa ia mampu menjadi penulis.

Keluarga awalnya menentang keinginan Zahara untuk menjadi penulis. Berbagai alasan dikemukakan oleh keluarganya untuk mencegah Zahara terjun ke dunia yang dinilai tak bermanfaat, membuang-buang waktu, pekerjaan hanya untuk pemalas, dan pekerjaan yang tak menghasilkan uang. Zahara memulai segala sesuatunya dari nol. Dari tak mengetahui dan memiliki apa-apa. Tapi kemudian dia berdiri di atas pilihannya, bukan untuk membantah orang tua. Tapi untuk membuktikan bahwa ia bertanggung jawab atas pilihannya.

Menulis, Bukan Jalan Yang Mudah
Segala keberhasilan yang diraih Zahara bukan karena ia beruntung, bukan juga karena ia memiliki koneksi, apalagi ia menggunakan jampi-jampi. Semua keberhasilan itu diraihnya setelah menempuh jalan terjal tanpa jeda.

Memulai berkarya dari nol, sama halnya dengan berjalan tanpa arah. Zahara punya kemampuan, tapi ia tidak tahu arah mana yang harus diambil. Zahara bisa menulis puisi, cerpen dan novel, tapi ia belum tahu semua tulisnya itu mau dibawa ke mana. Ia hanya tahu menulis, menulis, dan menulis. Tulisannya bisa dibaca, tapi ia buta dengan tata bahasa. Tulisannya terkesan alay, kacau, dan hanya mengandalkan bisa dibaca.

Perempuan manis yang kini tinggal di Bangli itu akhirnya mengikuti berbagai pelatihan kepenulisan, baik yang berbayar maupun yang gratis. Rumah Pena dan Cendol menjadi tempat Zahara menimba ilmu kepenulisan. Di sana ia berkenalan dengan penulis-penulis yang lebih senior. Sikap Zahara yang ramah dan mudah bergaul, membuat para penulis senior tak segan membantunya. Ia mulai belajar dengan para penulis senior itu. Lambat laun Zahara menemukan jati dirinya sebagai penulis. Ia nyaman dan ingin terus menulis.

Zahara menunjukkan salah satu karyanya
Setelah mengikuti berbagai pelatihan sambil terus belajar Zahara mengikuti berbagai lomba. Dengan mengikuti lomba Zahara bisa mengasah kemampuannya dan juga mulai menaiki tangga untuk dikenal orang. Ia hampir setiap hari mengirimkan puisi dan cerpen. Dari seratus karya yang dikirim, paling hanya dua atau tiga yang diterima. Meski begitu Zahara tak kehilangan semangat, ia terus mengirimkan karya-karyanya.

Selain aktif di berbagai pelatihan, Zahara juga mengikuti komunitas penulis. Salah satunya adalah Komunitas Malang Menulis. Bersama komunitas ini Zahara baru saja meluncurkan antologi Malang Dalam Aksara. Antologi ini berisi 20 cerita pendek, 26 puisi, dan5 artikel. Antologi Malang dalam Aksara diharapkan dapat menjadi jembatan untuk lebih mengenal Kota Malang.
Zahara bersama Komunitas Malang Menulis saat launching buku terbaru
Banyaknya pengalaman lomba, pelatihan, dan komunitas, tak lantas membuat Zahara bebas melenggang tanpa hambatan utnuk menjadi penulis. Hambatan kembali datang menghampirinya. Penerbit-penerbit yang menerima karya Zahara tak semuanya amanah. Ada beberapa penerbit yang ternyata hanya memberi angin surga pada Zahara. Bukunya terbit, cover sudah di sebarkan, tapi ternyata ketika memesan buku tidak ada. Bahkan terkadang sudah siap naik cetak, tapi ketika ditanyakan tidak jadi dengan alasan yang tidak jelas. Alasan-alasan seperti itu yang membuat Zahara lebih selektif terhadap lomba-lomba yang diikutinya. Ia tak mau mengalami kekecewaan lagi karena di-PHP oleh penerbit.

Jalan terjal yang dilalui Zahara masih panjang. Selain di-PHP, salah satu kekecewaan juga datang karena tindakan plagiat dari seorang penulis di Wattpad. Zahara marah ketika mendengar karya yang terbit mayor, dijiplak tanpa izin dan disebarkan dengan seenak hati. Plagiator tersebut seakan tak menghargai pegal jemari dan lelah bahu yang semalaman merangkai kata-kata, menciptakan sebuah karya. Plagiator tak mau tahu, bagaimana sulitnya menemukan ide dan mengubahkan menjadi sebuah buku. Plagiator hanya membutuhkan like dan comment, sedangkan penulis membutuhkan kepuasan dalam menulis.
“Saya tak melaporkannya, hanya saja seorang penulis senior telah mengumumkan namanya. Saya rasa efek jera yang dirasakan akan lebih mengena, daripada dilaporkan tapi tak diketahui orang,” ujar Zahara dengan senyuman manisnya. Ia berharap ini adalah kasus pertama dan terakhir baginya.
Mantan Terindah, karya Zahara Putri yang menjadi korban plagiat

Handphone, Senjata Melawan Keterbatasan
Awal berkiprah di dunia tulis menulis, Zahara menggunakan komputer, tapi seiring waktu yang berlalu. Komputer itu mengalami kerusakan. Seorang teman yang baik hati dan mengapresiasi kegigihan Zahara dalam dunia tulis menulis memberikan sebuah laptop bekas. Pemberian ini semakin melecut semangat Zahara untuk terus menulis. Zahara tak mau mengecewakan orang-orang yang mendukung kreativitasnya dalam menulis.

Tiga tahun lalu, perlengkapan perang yang biasa digunakan Zahara untuk menulis rusak. Laptop kesayangannya menyerah, terkalahkan semangat Zahara. Laptopnya itu tak mampu menandingi kehebatan si empu dengan berbagai imajinasinya yang liar. Laptop itu lebih memilih mengalah, menyingkir dari dunia khayalan yang sering di ciptakan Zahara.
Zahara sudah berupaya untuk memperbaiki komputer dan laptop miliknya. Tapi petugas service malah menyarankan Zahara untuk membeli laptop baru. Karena laptop dan komputernya sudah sulit untuk diperbaiki.

Zahara yang merana hampir tak bisa melanjutkan aktivitas menulisnya. Tapi bukan Zahara Putri namanya jika ia menyerah pada keadaan. Dia sudah memilih jalan menulis dan ia harus tetap berada di jalan itu. Tak mungkin keinginan yang menggebu untuk membuktikan pada keluarga, hilang begitu saja karena rusaknya senjata. Ia masih punya satu benda yang dapat membantunya.

 “Kesulitan waktu pakai handphone itu, kalau sudah mulai lemot. Terus sudah nulis banyak, tiba-tiba tulisannya hilang. Di situ rasanya nyesek, pingin nangis.” Zahara menceritakan dengan sendu. Handphone mungil miliknya menjadi saksi perjuangan jari jemarinya mengetik berbagai naskah. Saksi bagaimana ia memulai dari awal setiap tulisan yang tiba-tiba menghilang. Saksi bagaimana tekad telah mengalahkan keterbatasan. Dengan keterbatasan itu, ia justru berhasil menerbitkan buku. Tak terhenti sedikit pun. Bahkan saat ini, Zahara Putri tengah serius belajar skenario. Dengan apa? Masih dengan handphone kesayangannya.

Zahara Putri memang benar-benar keras kepala. Tapi keras kepala dalam arti positif. Keras kepala karena ia tak mau menyerah, tak bisa menyerah, dan tak akan pernah menyerah.#tia

***
Daftar buku-buku karya Zahara Putri
1. Bingkai Rindu Samara (Ceremai Press, 2011)
2. Bunga Rampai Selingkuh (Hasfa Publisher, 2011)
3. Dialog Sepasang Kupu-Kupu (AG Publishing, 2011)
4. Curahan Hati untuk Tuhan (Leutika Prio, 2011)
5. Catatan Juli (3M Self Publishing, 2011)
6. Unforgettable Moments (AG Publishing, 2012)
7. Di Sebuah Surau Ada Mahar Untuk-Mu (Tinta Media, 2012)
8. Puisi Adalah Hidupku (Leutika Prio, 2012)
9. Serba-Serbi 14 Februari (AE Publishing, 2012)
10. 99 Surat Kerinduan untuk Presiden (Leutika Prio, 2012)
11. Presiden untuk Presidenku (Sany Publishing, 2012)
12. Yang Terabaikan series 2 (Deka Publishing, 2012)
13. Yang Terabaikan series 2 (Deka Publishing, 2012)
14. Talenta Pengukir Tinta Emas (Awang-Awang Publishing, 2012)
15. Event Tahun Baru (AE Publishing, 2012)
16. Penghapus Mendung (Leutika Prio, 2012)
17. When I Miss You (AG Publishing, 2012)
18. Surabaya Whetever Love (Prima Pustaka, 2012)
19. Negeri Dongeng (AE Publishing, 2012)
20. Story Of The Cat (WR Publishing, 2012)
21. Baju Muslimah Azizah (Merdeka Media, 2012)
22. Kota Kenangan (AE Publishing, 2012)
23. Dalam Balutan Pelangi (AG Publishing, 2012)
24. Kunti I Love You (AG Publishing, 2012)
25. Gado-Gado Office Boy (Deka Publisher, 2012)
26. Ketika Penulis Kebelet Kawin (Awan Pustaka, 2012)
27. Negeri Sejuta Fantasi (WR Publishing, 2012)
28. Bumi Indonesia Kami Tecinta (Hasfa Publishing, 2012)
29. Ibu dalam Kehidupanku (AE Publishing, 2012)
30. Kisah Klasik HP Jadul (DeKa Publishing, 2012)
31. The Formula of Charity (Penerbit Harvey, 2012)
32. Untuk Para Sahabat (Goresan Pena Publishing, 2012)
33. Sang Jejak, (Cipta Medika, 2012)
34. Lukisan Ibu Pertiwi, (Awang-Awang Pustaka, 2012)
35. Mother in Maya (Deka Publishing, 2013)
36. Penulis Indie Idonesia (Afsoh Publisher, 2013)
37. Sebelum, Ketika dan Sesudah (AE Publishing, 2013)
38. Surat Cinta untuk Bunda (Deka Publishing, 2013)
39. Sahabat Maya Ispirasinya (Goresan Pena Publishing, 2013)
40. Terpenjara di Negeri Sendiri (AG Publishing, Maret 2013)
41. Karya Kreatif, (Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, 2012)
42. Antologi Bakso Arema (Aura Publishing,2014)
43. Akhirnya Jodohku Datang (Rumah Pena Publishing,2014)
44. Senandung Cinta Sang Putri (Hamazah Publishing, 2014) ~Buku Solo~
45. Mantan Terindah (Euthenia, 2014) ~Buku Solo~
46. Secret Admirer (Reybook Publishing, 2015) ~Buku Solo~
47. Malang dalam Aksara (AE Publishing, 2018)
Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.