SANIA oleh Dewy Rose.


Dingin malam ini mulai menusuk ke tulang. Apalagi selepas hujan deras yang masih menyisakan rinai hujannya, hingga membuat udara malam bertambah dingin. Ya, karena malam ini aku pulang agak larut sebab ada lemburan mendadak dari kepala bagian tadi. Sebagai seorang karyawan sebuah pabrik, saat ada lemburan seperti itu sangatlah diharapkan. Setelah turun dari bis jemputan, kemudian  menyebrangi sungai dengan getek, semoga saja masih ada. Sesampainya ditempat getek, masih kulihat lentera menyala di tengahnya.

Alhamdulillah! rupanya waktu masih berpihak, batinku. Setelah menuruni jalan yang sedikit licin, sampailah menaiki getek.

Seraut wajah lelaki yang mulai keriput, sambil menyesap dalam-dalam sebatang rokok yang tinggal sedikit, kemudian menikmatinya sebelum mengembuskan asapnya. Tak lama menunggu setelah membuang sisa rokoknya, kemudian getek itu bergerak perlahan. Terlihat berat saat menarik kawat baja yang menghubungi antara sungai pinggir jalan menuju bibir sungai di perkampungan tempat tinggalku. Karena sengaja mencari tempat tinggal yang berada di perkampungan, agar sewanya lebih murah dan juga masih ada kekeluargaan di sana dalam kehidupan bermasyarakat. Setelah sampai, segera kumasukan uang  sepuluh ribu rupiah, dengan tersenyum sebagai tanda terima kasih, lalu Bapak itu segera membereskan kotak tempat uang karena ingin pulang juga.

Menaiki jalan dari pinggir sungai dengan cahaya remang, harus lebih hati-hati. Karena kondisi jalan yang becek, hingga licin sehabis hujan. Kemudian berbelok ke arah kanan menuju rumah kontrakan, harus melalui jalan sedikit gelap, tempat pembuangan sampah warga di semak pinggir sungai lalu sampai pada warung pojok, Pak Dullah yang biasa buka hingga pagi dan jadi pangkalan para petugas keamanan juga.

Sambil melirik jam pada handphone, terlihat pukul 21:47, sudah malam sekali, batinku lagi. Memang kemalaman sekali pulang lembur kali ini. Sebab bus karyawan yang tadi ditumpangi, mendadak kempes bannya dan supirnya harus mengganti dengan ban serep, memakan waktu ditengah perjalanan tadi. Karena sudah bilang di awal dengan Pak Supir jika  akan turun di pinggir sungai, maka mobil membelok arah barat, jalan pintas hanya menyebrangi sungai lalu sampai. Jika lewat arah timur, arah yang berlawanan, aku berpikir akan lama sampai, karena harus memutar arah jalan raya, melewati pasar dan memutar balik kembali agar sampai pada perbatasan kampung dan perumahan elite sebelahnya.

Ketika melewati semak tempat pembuangan sampah warga, aromanya mulai menyengat bahkan jalan semakin gelap, karena minimnya penerangan di kampung. Tiba-tiba ...

“Srek!”

“Astaghfirullahaladziim!” ucapku setengah berteriak.

Dan ... bulu kuduk mulai berdiri, saat tiba-tiba aroma sampah berubah menjadi bau amis! Ya, bau amis darah! Saat teringat, bahwa ini adalah malam jumat, semakin berdiri bulu kuduk ini. Segera senter pada handphone kunyalakan. Dengan memberanikan diri sambil terus membaca surat Alquran, mata ini berkeliling memperhatikan jalan, dengan langkah memburu. Kemudian ...

“Huhuhuhu!”

Terkejut diri ini saat mendengar suara tangisan, kemudian senter segera kuarahkan pada sumber suara, namun tidak ditemuka seseorang di sana. Sambil terus memacu langkah setengah berlari, karena mendengar suara tangisan yang semakin jelas. Hingga dikagetkan pada sesosok anak kecil sambil berjongkok menundukkan kepalanya yang sudah ada di depanku!

“Ah!” teriakku karena kaget.

Namun segera berhasil menguasai diri. Perlahan mendekati tubuh mungil itu. Walau bau amis darah semakin menyengat.

“Adik! Kenapa menangis? Tinggal di mana?” tanyaku sambil terus mendekat dan berusaha jongkok.
Secara tiba-tiba anak itu mendongakkan wajahnya!

“Ah!” teriakku lagi karena terkejut sambil mundur kebelakang.

Kemudian anak kecil itu berdiri, perlahan namun pasti berjalan ke arahku.

Ya Tuhan! Lindungilah hambamu ini, aku terus berdoa dalam hati. Sambil memejamkan mata. Derap langkah kaki itu kian mendekati! Serasa copot jantung ini, saat sosok mungil itu menyentuh jemari, dingin sekali tubuhnya. Ketika membuka mata dan terlihat wajahnya yang pucat pasi dengan sorot mata kosong. Seraut wajah polos itu seakan mengiba, lalu dengan penuh kasih segera kugenggam erat tangan mungilnya.

Ah, mungkin saja anak ini kehujanan, hingga menggigil kedinginan dan wajahnya pucat karena lapar juga, batinku menenangkan diri.

Setelah melewati warung Pak Dullah, tak lama memasuki gang sampailah kami di rumah kecil, di antara deretan rumah kontrakan yang lainnya, berjejer kanan dan kiri. Melihat wajahnya yang pucat, dengan pakaian warna biru muda yang sudah kotor karena cipratan tanah saat hujan, segera saja mencari baju keponakan pada saat menginap di sini sebulan yang lalu bersama Mbakyu-ku dari Cirebon.

Dia hanya menoleh sesaat, ketika tanganku menggenggamnya menuju dapur dan masuk kamar mandi untuk membersihkan badannya. Selepas itu kami makan bersama, Dia pun memakannya dengan lahap. Seolah lapar sekali hingga netraku mengembeng. Ketika melihatnya makan, kemudian bertanya,

“Adik, namanya siapa? Tinggal di mana?” Bukannya menjawab, namun tiba-tiba wajahnya menatapku tajam! Sambil bibir pucatnya seakan ingin mengucapkan sepatah kata.

“Saaa!” ucapnya lirih, nyaris tak terdengar!

“Sa? Namamu, Sa?” tanyaku kembali.

Sambil tersenyum, kemudian dia mengangguk dan melanjutkan makan kembali.
Tanpa terasa malam telah larut dan kulihat Dia sudah terlelap. Segera kututupi tubuhnya dengan selimut.

Ah! Dingin sekali badannya, batinku.

Tiba-tiba bulu kudukku merinding kembali! Sesaat angin berembus membelai wajah, mempermainkan anak rambutku dan bau amis darah itu tercium kembali!

DR.
Bekasi, 15 Maret 2018
20:22

Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.