SANIA (3) Oleh Dewy Rose.



Lampu kamar yang sudah menyala kemudian mati dengan sendirinya. Tanganku meraba sakelar, sebelum sampai lampu sudah menyala kembali. Ini terjadi sampai berulang kali. Tiba-tiba angin berembus kencang di dalam kamar, meliuk dan berputar semakin kencang.

“Ah!” teriakku, saat angin itu seolah mengangkat tubuh ini.

Lamat-lamat masih kudengar suara Mas Dion sambil berusaha membuka pintu kamar.

“Sa!” teriakku lagi sambil berusaha mendekati tempat tidur dan melihat tubuh mungil itu sambil memeluk lutut memandang tajam ke arahku.

“Sa! Kamu enggak apa-apa ‘kan? Sayang?” tanyaku lagi sambil menatap iba wajah polosnya yang pucat dengan tatapan hampa.

Angin itu tiba-tiba berhenti meliuk-liuk di dalam kamar dan menghilang.

Srek!

Tirai jendela bergerak terbuka dan tertutup sendiri dengan tiba-tiba.

“Astaghfirullahaladziim!” teriakku saat menatap sesosok bayangan hitam pada jendela kamar.

“Widya!” teriak Mas Dion kembali dari luar kamar.

Segera kupeluk tubuh Sa, agar tak melihat sosok hitam itu. Sementara angin berembus kembali dan membawa bau amis darah yang kian menusuk hidung, membuat mual. Kepalaku terasa berat, sambil menatap nanar pada wajah Sa dan berusaha tersenyum. Pelukanku semakin erat dan semakin dingin saat tubuh ini menyentuh tubuh Sa. Dingin dan dingin!

Dalam hitungan detik semua berubah, lampu kamar kembali menyala. Tirai jendela pun tidak lagi bergerak terbuka dan tertutup. Dan sosok bayangan hitam itu pun menghilang. Perlahan-lahan angin yang mengembuskan aroma amis darah dalam kamar pun seakan menjauh.

“Widya!” teriak Mas Dion sambil berusaha membuka pintu kamar.

Bergegas aku turun dari tempat tidur membukakan pintu kamar.

“Wid! Kamu baik-baik saja?” tanya Mas Dion menatapku khawatir. Sambil tersenyum aku mengangguk.

“Apa yang terjadi barusan di dalam kamar, Wid?” tanyanya kembali dengan nada penasaran.

“Sstt! Nanti kuceritakan ya, Mas. Sekarang kita keluar dulu, kasihan Sa ingin istirahat,” jawabku sambil melirik melihat ke arah Sa yang menutupi wajah dan tubuh mungilnya dengan bantal. Segera kami keluar menuju ruang tamu.

Setelah aku menyuguhkan segelas teh hangat dan beberapa gorengan yang kami beli tadi , sambil duduk di lantai, kemudian Mas Dion bertanya kembali.

“Ceritakan apa yang terjadi di dalam kamar tadi, Wid? Kamu berteriak ketakutan saat beristighfar seperti ada sesuatu telah terjadi,” katanya sambil memakan pisang goreng.

“Aku juga sebenarnya enggak mengerti, Mas. Sejak menemukan Sa di pinggir sungai, awalnya seperti ada sesuatu, namun tidak tahu apa,” jawabku sambil menghela nafas.

“Sesampainya di rumah, kejadian itu terulang kembali pada saat malam sebelum tidur. Serta tadi pagi ketika aku membuka tirai kamar. Dan sekarang terjadi lagi hal yang nyaris sama dan berulang membuatku merinding sebenarnya, kemudian hilang begitu saja.” Sambil menahan napas, kemudian aku meneguk teh hangat untuk menenangkan diri.

Sebelum aku memulai cerita lagi, Mas Dion kemudian bertanya kembali, “Maksud kamu, kejadian seperti apa? Wid?”

“Ketika di tempat pembuangan sampah, tiba-tiba ada angin berembus cukup kencang dan meliuk di sekitar situ, hingga pepohonan perdu yang berada di sekitarnya pun bergerak. Kemudian aku mencium bau amis darah yang sangat kental sampai membuatku mual,” kataku sambil menahan mual kembali.

“Kemudian semalam hal serupa terjadi lagi di dalam kamar sebelum tidur. Tadi pagi pun demikian saat bau amis darah itu menyengat hidung seolah memenuhi kamar, lalu muncul  sesosok bayangan hitam di jendela dan pintu kamar, mempermainkan tirai dan pintu kamar yang bergerak sendiri. Sampai barusan pun demikian, Mas.” Sambil menahan mual, nanar mataku menatap Mas Dion.

Tiba-tiba ...

“Selamat malam, Mbak Widya dan Mas Dion! Maaf jika kami mengganggu, tadi kami mendengar ada suara teriakan, ada apa ya?” tanya Mang Darmin, tetangga sebelah aku bersama dengan Kang Itong dan Bang Jaka.

“Enggak ada apa-apa, Mang Darmin, tadi Widya kaget karena lampu kamar putus, mati mendadak saat masuk ke dalam,” jawab Mas Dion menutupi semua yang terjadi sambil melirik ke arahku, kemudian tersenyum.

“Baiklah, jika memang tak ada apa-apa, jika nanti Mas Dion tidak ada, bisa meminta bantuan kami tetangga di sini ya, Mbak?” Bang Jaka tersenyum sambil menawarkan jasa padaku.

“Iya, terima kasih banyak ya, Mang, Kang Itong dan Bang Jaka,” jawab kami berbarengan, kemudian mereka pun berpamitan.

Setelah berbincang sesaat, sambil menenangkan aku dan mengatakan semua akan baik-baik saja, kemudian Mas Dion berpamitan.

“Wid, kamu jangan lupa makan. Berikan baju itu padanya Sa. Mungkin saat ini Dia masih malu sama Mas. Besok siang Mas ke sini lagi, sekalian kita laporan sama Pak RT Maman tentang keberadaan Sa di rumah kamu ya, Wid? Semoga saja Dia segera bertemu dengan orang tuanya,” ucap mas Dion sambil memakai jaket.

“Nanti makanannya juga berikan ya, Wid? Ada coklat, roti dan pemen serta makanan ringan lainnya,” Sambil berjalan ke luar Mas Dion masih saja berbicara.

“Iya, Mas! Iya!” aku menyela sebelum Dia berbicara lagi

Lalu kami pun tertawa bersama, kemudian Mas Dion mengerdipkan sebelah matanya sambil tersenyum mesra.

Ah!

Segera kualihkan pandangan, karena sudah pasti merona pipi ini. Tak lama Mas Dion pergi, segera pintu dan jendela aku kunci. Sambil merapikan gelas dan juga ruang tamu, kemudian salat Isya, segera kutemui Sa sambil membawakan plastik berisi pakaian dan makanan ringan untuk Sa.

Ketika di kamar, Sa sudah tertidur, lalu kuselimuti dan meletakkan pesanan Mas Dion, di atas meja. Kemudian aku berbaring di sampingnya, tiba-tiba ...

Angin berembus kencang kembali dalam kamar, bau amis darah itu mulai memenuhi ruangan. Segera kutarik selimut, berdoa dan memejamkan mata.

Brak!

Tiba-tiba pintu kamar terbuka!
Segera kupeluk tubuh mungil Sa, dingin!

DR.
Bekasi, 29 Maret 2018
19:19


Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.