Mimpi Kecil Mentari (bagian 1) Oleh : Asih Rehey

"Aku mau main duluan!" Kata seorang gadis kecil dengan baju seragam lusuh dan rambut pirang tak terawat berteriak membuat Laila segera mundur dari ayunan. Tatapan gadis tersebut membuat Mentari lebih memilih untuk tak mendekati. Kaki mungil Mentari menghampiri beberapa teman sekelasnya yang tengah duduk bermain ayunan. 



"Sini main sama kita saja. Tuh lihat si kumal sudah mulai nakal lagi." kata Aya teman sebangku Laila. 
Laila pun mengangguk dan segera menghampiri sahabat kecilnya. Mereka berdua asik main ayunan dan segera berhenti ketika gurunya menyuruh untuk segera masuk ke dalam kelas. 
Laila memperhatikan wajah gadis yang merebut mainannya tadi. Tari nama gadis itu melotot melihat Laila memandangnya. Tampak wajah gadis kecil itu tidak bersahabat hari ini. Laila pun segera melanjutkan menulis tugas yang diberikan gurunya. 
"Bu guru, Laila sudah selesai. Ini Bu, buku Laila." kata Laila menyodorkan buku bergambar princes itu. 
"Wah... Laila hebat. Paling cepat selesai dan rapi sekali tulisannya." Puji Bu Agatha. 
Gadis berambut pirang tak terawat itu pun segera maju ke bangku gurunya dan mendorong Laila begitu saja. Laila pun hampir jatuh, untungnya di sampingnya ada meja milik Doni. 
"Woi, si Kumal. Kalau jalan hati - hati dong! Ini tulisanku kecoret nih!" gertak Doni. Gadis bernama Tari itu pun tak menggubris kata - kata teman sekelasnya. 
Laila segera duduk kembali ke kursinya. Sudah beberapa kali Tari berbuat seperti itu kepada Laila. 
"Kamu kok tidak melapor ke bu guru saja sih La? tadi kan kamu didorong sama si Kumal." kata Aya membujuk Laila. 
"Aku gak apa - apa kok. Kasihan Tari nanti dimarahi Bu guru." kata Laila. 
"Tapi dia sudah sering berbuat seperti itu kepada kamu ,La." kata Aya berapi - api. Dia sangat tidak suka dengan sikap Tari yang suka berbuat seenaknya sendiri kepadanya dan teman - temannya. 
"Mamak selalu bilang, kalau kita dinakali tidak usah dibalas. Allah tidak suka orang yang berbuat jahat. Kalau aku membalas perbuatan Tari, sama saja aku jadi orang jahat." kata Laila merapikan pensilnya ke dalam dusgrip berwarna pink, warna kesukaannya. 
Aya pun segera berdiri mengumpulkan bukunya ke meja Bu Agatha. Setelah semua anak mengumpulkan buku tugasnya, Bu Agatha menyuruh untuk membereskan semua peralatan anak didiknya. 
"Sekarang waktunya berkemas ya, jangan lupa PR-nya dikerjakan di rumah anak - anak." kata Bu Agatha guru kelas 1 yang sangat sabar menghadapi muridnya yang beraneka macam sifatnya. Semua anak pun serentak menjawab permintaan gurunya. 
Setelah berdoa, semua anak pun segera berhamburan keluar kelas. Begitu pula dengan gadis berambut pirang tak terawat bernama Tari itu, dia keluar kelas paling terakhir. Bu Agatha pun memanggil gadis berambut pirang itu. 
"Tari..." panggil Bu Agatha. 
"Iya, Bu." jawab gadis itu. 
"Nak, ibu tahu kamu sedang sedih dan marah. Tapi jangan jadikan teman kamu sebagai pelampiasan ya, Nak" kata Bu Agatha memberi nasehat. Gadis itu pun menunduk dan mengiyakan permintaan gurunya itu. Dia kemudian mencium tangan Bu Agatha dan berlari keluar kelas. 

***

Gadis berseragam lusuh dengan mata sayu masuk ke dalam rumahnya. Dia mencium tangan ibunya yang tengah duduk di kursi dengan tatapan yang kosong.
"Ibu, aku pulang." kata sang gadis mencium tangan ibunya. Wanita itu masih menatap jendela dengan tatapan kosong. Tiba - tiba wanita itu berteriak histeris yang membuat Mentari ketakutan dan masuk ke dalam kamarnya.
"Pergi! Pergi!" kata wanita itu histeris. Kedua orang tua wanita itu pun menenangkan anaknya yang sedang meronta dan menangis. Seakan ada beban dalam yang membuatnya menjadi seperti itu.
"Yarni, tenang, Nduk. Gak ada yang jahat sama kamu, Nduk." kata wanita berambut putih sebagian itu menenangkan anaknya yang terengah - engah sambil menangis histeris.
Mentari menengok dari balik pintu. Hatinya sakit melihat keadaan ibunya yang seperti itu. Dia sangat ingin ibunya kembali normal lagi seperti ibu teman - temannya yang lain.
Gadis kecil itu melepas seragamnya dan memakai baju seadanya. Dia kemudian berpamitan kepada neneknya untuk bermain di halaman rumah. Dia melihat neneknya sedang menyuapi ibunya. Hati gadis itu menangis melihat keadaan ibunya seperti itu.
Mentari segera berlari, mengurungkan niatnya bermain di halaman. Mentari berlari menuju pematang sawah dan memilih bermain di sungai kecil di antara hijaunya tanaman padi.
Dia melihat sekelilingnya dan duduk di sebuah batu besar di tengah sungai. Mentari duduk termenung di situ. Beberapa tetangga menyapa gadis kecil itu, tetapi dia hanya membalasnya dengan senyum. Tempat itulah yang selalu membuat Mentari bebas bermain. Biasanya ketika dia datang ke rumah tetangganya, ada saja kata - kata tak sedap yang dia dengar.


Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.