CERPEN - The Prodigy by Yulia Ang


Dari mana aku harus memulainya...
Butuh ribuan sekon sehingga akhirnya aku bisa memulai dan menyelesaikan semua ini.
Ingatkah kau saat pertama kita bertemu? Di sebuah penangkaran anjing di kawasan Brielle. Saat itu aku tengah menuruni taksi, dan seketika kulihat seekor Siberian Husky  berlari dari dalam ″Canis Familiaris″—tempat kerja part time-mu. Kau berteriak lantang dari pintu kaca yang telah terbuka.

“Whistle, stop!” Dan entah mengapa setelah mendengar teriakanmu itu, aku refleks berlari menangkap anjing berbulu lebat itu tanpa sadar bahwa aku telah melupakan tasku yang masih berada di dalam taksi. Saat itu yang terlintas dalam pikiranku bahwa yang kau panggil ″Whistle″ adalah anjing dalam pelukanku. Ternyata dugaanku tepat. Aku melihat wajahmu yang penuh syukur karena Siberian Husky itu berhasil kutangkap.

Sejak pertemuan pertama kita itu aku berani mengaku kalau aku terpesona dengan sorot mata dan gurat senyum pada wajahmu. Tak henti-hentinya kau mengucapkan syukur dan terima kasih padaku karena telah menyelamatkan seekor anjing yang belakangan kutahu kalau dia menderita kanker usus. Benar-benar miris. Anjing itu memberontak ketika akan dibawa ke klinik hewan untuk melakukan kemoterapi rutin yang dijalaninya.
Semoga saat ini Whistle sudah tenang di alam sana.

Kemudian sebagai ucapan terima kasih, kau mengajakku makan siang di restoran kecil yang ada di ujung blok. Tapi sayangnya, dengan sangat menyesal aku harus menolak ajakanmu. Ya... aku memang pantas dianggap sebagai orang bodoh karena sudah menolak ajakan makan siang dari gadis super cantik seperti dirimu. Kau menunjukkan wajah kecewa atas penolakanku hanya satu sampai dua detik saja. Setelah itu kau langsung tersenyum menghargai keputusanku. Karena tidak enak sudah membuatmu kecewa, akhirnya aku menceritakan alasan kenapa aku harus menolak ajakan makan siangmu saat itu.

“Aku sangat ceroboh. Aku meninggalkan tasku di dalam taksi yang baru saja kunaiki. Well, semua dokumenku ada di dalamnya. Visa, paspor, dompet—semuanya. Jika aku tidak segera mencarinya, aku pasti akan berurusan dengan pihak keimigrasian di sini.” Dan setelah aku memberitahukan alasanku, kau justru menjungkitkan sudut bibirmu membentuk  senyuman yang menawan.

Setelah itu kau mengambil ponselmu dan menghubungi seseorang. Aku tidak habis pikir, bisa-bisanya kau menghubungi agen taksi yang mengantarkanku tadi. Brilliant. Beberapa menit kemudian taksi yang kunaiki tadi kembali. Sang sopir mengembalikan tasku dalam kondisi yang utuh. Aku tidak menyangka jika ternyata ayahmu adalah pemilik dari perusahaan taksi terbesar di Belanda. What the...

Akhirnya kita berakhir pada makan siang yang hangat. Kita berkenalan, kau menyebutkan namamu yang indah. Belinda Gusta—nama yang akan selalu terpatri di otakku. Saat aku memperkenalkan diri padamu, kau justru tertawa renyah.

“Guntur Pamungkas? That’s the Indonesian of thunder, isn’t it?”
Aku takjub bagaimana kau bisa tahu arti dari namaku dalam bahasa Indonesia.
Next time, I’ll take you to Rotterdam,” ucapmu menggebu-gebu. Aku hanya mengangguk mengiakan ajakanmu. Sejak saat itu kita berteman. Kita saling bertukar nomor ponsel dan berhubungan baik.

Dua hari kemudian kau benar-benar mengajakku ke Rotterdam. Apakah ini semacam acara kencan? Karena jantungku berdegup kencang ketika kulihat kau berdiri menungguku dengan gaun hijau nan cantik di bangku taman. Aku segera menghampirimu. Dengan wajah ceria dan bersemangat kau mengajakku menuju sebuah museum.
I’ll show you something,” ujarmu saat itu. Beberapa saat kemudian, kita sudah berdiri di depan sebuah benda kuno yang bentuknya seperti lempengan dengan ukiran huruf yang aku sama sekali tidak mengerti tulisannya.

“Ini adalah Jayapatrra, sebuah Prasasti Guntur dari Jawa kuno, milik negaramu.”
Aku sedikit kaget mendengar ucapanmu.
Jadi diri situ kau tahu arti namaku dalam bahasa Indonesia.
I’ll tell you a secret. Beberapa waktu yang lalu aku sudah berbicara dengan perwakilan kedutaan besar Indonesia di Belanda soal ini. Kami mengupayakan agar prasasti ini bisa dikembalikan ke Indonesia. Benda bersejarah seperti ini sangat berharga bagi suatu bangsa. Jika hal itu terjadi pada negaraku, aku juga akan melakukan hal yang sama. Aku pasti tidak akan rela peninggalan bangsaku diklaim oleh negara lain.”

Setelah mendengar semua itu aku tidak bisa menghindar untuk jatuh cinta padamu. Aku langsung menciummu dengan spontan. Aku benar-benar terpesona dengan apapun yang ada pada dirimu. Kau seperti keajaiban yang diberikan Tuhan berulang-ulang kepadaku. Dan syukurlah kau tidak menamparku dengan sikap kurang ajarku yang telah menciummu.

Tiga bulan setelah peristiwa itu, tepatnya tanggal 19 di bulan November tahun 2011, kita memutuskan untuk menikah. Aku menjadi laki-laki paling beruntung di dunia karena bisa memenangkanmu. Kau tidak keberatan menikah dengan orang asing yang hanya bekerja sebagai teknisi di sebuah pabrik air minum. Setahun kemudian sebuah keajaiban hadir (lagi) dalam perutmu. Bayi pertama kita. Kita memanggilnya, Junior.
Oh aku tidak sabar untuk mendengar jerit tangisnya ketika nanti Junior keluar dari dalam rahimmu, dan menghirup udara untuk yang pertama kalinya. Kuharap Tuhan memberiku kesempatan untuk menikmati momen itu.

Manusia hanyalah perencana, dan Tuhan adalah penentu segalanya. Dia mengambil kesempatan itu dariku. Dia merenggut bidadari dan malaikat kecilku dalam satu kali waktu, melalui kecelakaan tragis yang menimpamu. Aku benar-benar terpukul. Aku marah pada semesta. Aku marah pada Tuhan. Dan aku lebih maram pada diriku sendiri karena seharusnya aku yang mati dalam kecelakaan itu, bukan kalian berdua. Hidupku dipenuhi oleh depresi berat. Tiap hari aku merutuki diriku dan Tuhan. Untuk sedikit meredam keputusasaanku, aku mendatangi tempat-tempat bersejarah bagi kita. Salah satunya adalah museum di Rotterdam. Aku berdiri memandangi Prasasti Guntur yang masih bertengger di sana.

Sayangku, ternyata usahamu belum berhasil untuk mengembalikan benda ini ke negara asalku. But I don’t care.
Kau bilang benda berbentuk lempeng ini adalah prasasti tentang keadilan atau apapunlah itu. Bahkan kau mempercayai jika benda kuno ini memiliki kekuatas magis. Aku hanya tersenyum saat itu. Karena aku tidak percaya dengan hal-hal yang berbau mistis. Aku berbicara pada Tuhan saat itu. Mengadu kalau aku sudah kehilangan kepercayaanku akan Dirinya. Aku menantang-Nya.

Dear God.
Jika memang Engkau itu benar-benar ada, maka kembalikanlah Belinda dan Juniorku. Tunjukkan kuasaMu dan keajaibanMu. Biarkan aku yang tetap mati dalam kecelakaan itu. Bukannya istri dan calon anakku yang akhirnya meregang nyawa karena berusaha menyelamatkan nyawaku, dari hantaman sebuah bus yang kehilangan kendali karena rem blong. Seharusnya aku yang saat itu sedang mencoba menghentikan sebuah taksi di depan sebuah restoran lah yang dihantam bus itu.

Kau menarik lenganku dengan kuat agar aku menyingkir dari bahu jalan. Namun nahas, tubuhmu dengan perut buncit itu justru kehilangan keseimbangan dan kau jatuh di atas aspal jalan raya. Tanganku yang tidak berguna ini tidak berhasil meraih tanganmu. Di depan mataku aku melihat sebuah bus langsung menerjang tubuhmu dengan kuat. Detik itu juga aku kehilanganmu beserta Junior. Jika mengingat peristiwa itu, rasanya setiap saat aku ingin mati saja.

Tentu Tuhan tidak mendengar doaku. Karena aku sudah kehilangan keyakinan atas diriNya. Setelah permohonanku itu aku tidak menemukan keajaiban apa-apa. Yang kurasa hanya lengang dan jiwa yang kosong. Aku menyentuh Prasasti Guntur di hadapanku, padahal disana jelas-jelas tertulis ″dilarang memegang″ dalam bahasa Inggri dan Belanda. Saat itulah aku mengalami kejadian yang bahkan membut bulu romaku meradang. Ketika aku menyentuh prasasti itu, entah mengapa terdengar suara guntur yang amat kencang di telingaku. Menggelegar semacam ultrasonik yang memekakan telingaku. Lalu sesudahnya kurasakan gelap.

Beberapa detik aku akhirnya membuka mata. Dan betapa terkejutnya bahwa di sana aku melihatmu sedang bermesraan dengan seorang pria di dalam rumah kita. Aku sempat marah dan api cemburu membakar hatiku dengan telak. Aku melangkah bersiap menghajar dan  mengusir laki-laki itu dari rumah kita. Namun kemudian aku tercekat. Ternyata laki-laki itu tak lain adalah aku di masa lalu. Itu adalah potret kehidupan kita beberapa jam sebelum kecelakaan nahas itu terjadi. Aku bisa mengingat persis peristiwa itu. Karena tepat malam itulah aku mengajakmu untuk makan malam di restoran kesukaan kita, untuk memperingati hari jadi kita yang ke-dua.

Setelah menyaksikan semua itu, aku mengerti suatu hal. Aku menarik segala hujatan dan sumpah serapah yang kutujukan pada Tuhan selama ini. Orang bilang bahwa Tuhan bekerja secara misterius, dan kini aku meyakini hal itu. Karena kehendak-Nya aku kembali pada masa sebelum kecelakaan itu terjadi. Aku bersyukur karena ternyata Tuhan mendengar doaku. Doa dari pendosa yang sempat meragukan eksistensi-Nya. Cepat-cepat aku keluar dari rumah kita tanpa diketahui oleh diriku yang dulu, pun juga kau. Aku membeli sebuah buku tulis dan pena. Lalu kutulis semua ini untukmu.

Jadi Belinda, jika kau membaca surat ini, itu berarti Tuhan sudah mengubah takdir kita. Aku bisa bernapas lega karena kau akan baik-baik saja. Terima kasih untuk-Nya. Namun sayang, ada satu yang tak dapat diubah dalam semesta ini. Dimana ada kematian, di situ harus tetap ada kematian. Karena itu sudah menjadi hukum alam. Dan manusia tidak bisa mengubah kebijakan itu. Tapi tenanglah, ini semua adalah hal yang paling adil yang dilakukan Tuhan padaku, padamu, dan pada Junior kita. Jangan pernah menyalahkan Tuhan atas semua ini. Jangan bingung dan takut. Terkadang keajaiban memang terjadi di luar batas nalar manusia.

Aku tidak egois. Atas kepergianku kau boleh berduka sejenak. Menangis dan merinduku. Tapi setelah itu kuharap kau segera pulih dan menjadi tegar untuk Junior. Terima kasih Belinda, terima kasih untuk keajaiban yang ada di dalam perutmu saat ini, yang kau berikan pada hidupku. Hiduplah dengan baik, karena itu adalah cara terindah untuk menghargai kematian orang yang mencintaimu.
Selalu dan selamanya,
Guntur Pamungkas.
*

“Sayang, sebaiknya kau tunggu di sini sebentar. Aku akan mencari taksi untuk kita.”
Belinda tersenyum mengangguk, menyetujui usul sang suami. Wanita itu melihat suaminya yang berjalan lebih dulu keluar dari restoran. Tapi entah kenapa dia ingin menyusul sang suami keluar. Namun sebelum semua dilakukannya seorang pramusaji memanggil namanya.
“Nyonya Belinda Gusta Pamungkas?” Wanita itu langsung menoleh ke asal suara.
“Iya?”
Pramusaji itu mengangsurkan kertas bergaris yang dilipat simetris kepada Belinda, seraya memberi tahu kalau surat itu dari suaminya.
“Saya harus memastikan bahwa anda membaca surat ini sekarang juga.”
Belinda tersenyum, ia tidak menyangka jika suaminya menitipkan sebuah surat untuknya. Wanita itu kembali duduk tenang seraya menyandarkan bahunya di sandaran kursi sambil membuka surat itu perlahan. Belinda menghela napas sebelum akhirnya membaca isi surat dari sang suami.

Menit pertama ia baik-baik saja. Namun selanjutnya semua bak mimpi buruk yang menari dalam otak wanita itu. Bola mata Belinda yang biasanya bersinar berubah keruh oleh air mata yang menggenang. Tangannya bergetar hebat  mencengkeram sepucuk surat dalam pangkuannya. Sementara sebelah tangannya memegangi perutnya yang buncit karena ia merasa ada tekanan menyesakkan dari dadanya.

Perlahan Belinda menoleh, menatap sang suami di luar dari balik dinding kaca restoran. Dan detik itu juga, sebuah bus tiba-tiba muncul menghantam tubuh sang suami dengan keras sampai-sampai membuat raga itu terpental di udara. Belinda tak bisa berkata apa-apa selain manangis histeris layaknya seorang yang baru kehilangan belahan jiwanya. Bahkan mungkin perasaan sedih yang dirasakannya lebih buruk dari pada itu.

End.






Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.