Cerbung Melepasmu (Part 1)

Kamu berdiri di sana, dengan tuksedo licin berwarna hitam. Sematan mawar merah menandakan kau mempelai terbahagia hari ini. Di hadapanmu, sang peri cantik dengan gaun putih bersih menjulur beberapa meter ke belakang, dengan mawar putih di tangan, cukup menandakan jika kalian sepasang yang terberkati hari suci sehidup semati. Saling bertukar cincin, saling bertukar senyum, bahkan saling bertukar cium. Wajah-wajah bahagia merona dalam taburan kelopak-kelopak mawar dari pendamping pengantin.



💔Part 1💔



Aku melihatku berdiri di sana, tapi itu bukan aku. Tidak merasakan ciumanmu, karena dahi di mana kaulekatkan bibir lembut itu bukan milikku. Napasmu tidak mengembus ke rahangku.
Karena yang berdiri di hadapanmu bukanlah aku. Bukan aku, si Irana yang keras kepala, egois, menyebalkan, bossy, jutek, tapi selalu kauinginkan untuk bernyanyi.
Dia yang di sana adalah Irana yang lain. Ah, bukan. Lyrana, si lembut yang mengagumkan. Pengasih yang menyenangkan. Penenang yang cantik lagi gemulai. Amat berkebalikan dengan Irana.
Serupa tak selalu sama. Sama tak selalu selaras. Terbukti pada kami yang meski berselang lima menit waktu kelahiran, segala kebaikan justru memberkati kakak kembarku.
Ya, Lyrana yang kamu nikahi adalah saudara sedarah sama wajah beda tabiat.
Seharusnya aku sadar sejak kamu menyatakan lebih menyukai perempuan lembut daripada perempuan pecicilan. Karena artinya, jelas yang kamu harapkan adalah Lyrana. Sedangkan Irana hanya sandaran sementara yang kamu pakai di saat lelah. Kawan sepermainan yang mengasyikan. Tempat curhat 24 jam tanpa bocor. Dan hati yang hanya tersinggahi sementara.
.
"Irana Jung?"
Terpaksa aku menarik kesadaran yang berkelana. Fokus pada sapaanmu yang kini menjulang di hadapan.
"Satu buah lagu?" Rasanya tercekat bertanya demikian. Satu buah lagu untuk menghadiahi hari bersejarahmu? Sungguh seribu belati siap menguliti dalam waktu bersamaan.
"Sebanyak yang bisa kamu nyanyikan."
Sayangnya, senyum dan permintaan manismu tidak cukup menghapus pedih yang timbul. Tidak cukup mencukil lara yang tumbuh.
Kamu meminta sebanyak yang kubisa? Andai kamu tahu, sejujurnya aku tidak mau.
Tidak mau bernyanyi untukmu dan dia.
Sangat ironis bukan menyanyikan lagu cinta di saat si penyanyi menyulam luka?
Boleh kunyanyikan lagu patah hati saja?
.
*tbc
.
.
Profil penulis
Rhaa Azhar adalah penulis pemula kelahiran Cirebon, 2 Maret 1996. Mulai menekuni dunia literasi sejak akhir tahun 2015. Sejauh ini, 4 novel solonya terbit secara indie. Penulis bisa dihubungi lewat fb Rhaa Azhar Ing atau WA 087710673193. Terima kasih 😊😊
Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.