Salon di Jepang Tarifnya Rp500-ribuan. Mau coba?

Tingginya kebutuhan masyarakat untuk bisa tampil keren disetiap kesempatan, menjadi peluang tersendiri bagi para pebisnis untuk membuka usaha salon kecantikan. Dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diterangkan bahwa, salon kecantikan adalah tempat orang merawat kecantikan, seperti merias muka, menata rambut, dan sebagainya. 

Pada awalnya salon kecantikan hadir untuk memenuhi  kebutuhan para wanita saja, sementara bagi para pria, ada tukang cukur keliling atau kedai tukang cukur yang jasanya bisa digunakan kapanpun diinginkan.  Berbagai perawatan pendukung seperti perawatan rambut dengan krim (creambath), pijat (massage), perawatan kuku-tangan (manikur), serta perawatan khusus kaki (pedikur) sengaja ditambahkan di salon kecantikan agar membuat pelanggannya puas dan betah berlama-lama di salon.

Tetsu Konishi sedang memotong rambut di salon khusus Pria di Jepang (Riyouin)
Foto: Tetsu Konishi 

Umumnya berginilah kursi keramas salon kecantikan di Jepang
Foto: Tetsu Konishi
Kehadiran salon kecantikan dianggap memudahkan para pelanggan yang suka merias diri dan menata rambut dengan cara praktis. Maka tak heran, keberadaan salon kecantikan kini mulai menjamur dimana-mana, mulai dari pusat perbelanjaan (mall), ruko, hingga di rumah. Meskipun bisa ditemukan dimana saja, tapi ada baiknya sebelum mengunakan jasa salon kecantikan, kita tanyakan dulu harga dan fasilitas yang didapatkan pelanggan. Hal utama adalah tanyakan secara rinci, berapa biaya yang ditawarkan untuk sekali perawatan saat masuk ke salon kecantikan. Nah, kepada JPI Tetsu Konishi ingin berbagi cerita seputar salon kecantikan yang didirikan di Jepang. Penasaran berapa tarif sekali perawatan di salon kecantikan di Jepang? Yuk kita baca kelanjutan ceritanya Tetsu San.

seorang pelanggan sedang merawat rambutnya di salon khusus Pria di Jepang (Riyouin)
Foto: Tetsu Konishi
Sebagai negara yang masuk dalam deretan negara dengan biaya hidup mahal di Asia, Jepang tentu memiliki standar harga dalam menawarkan jasa kepada para pelanggannya. Oleh karena tarifnya yang  tinggi, maka pemilik salon kecantikan di Jepang mengganjarnya dengan memaksimalkan kualitas pelayanan. Keamanan pelanggan adalah hal utama yang harus diterapkan di semua salon kecantikan Jepang. Jika tidak, siap-siap saja pengusaha salon mendapatkan teguran dari pemerintah. Campur tangan pemerintah dalam pengawasan pelayanan kepada warganya inilah yang membuat Jepang selalu menjadi salah satu negara dengan penerapan keamanan terbaik di dunia.

Ada 2 tipe salon kecantikan di Jepang, yaitu salon khusus wanita yang disebut Biyouin, serta salon khusus Pria yang disebut Riyouin. Kedua salon ini bisa ditemukan dimana saja di Jepang, namun pada umumnya Biyouin bisa ditemukan di mall-mal dan ruko pinggir jalan, sementara Riyouin bisa ditemukan di setiap stasiun kereta api. Meskipun Biyouin dikhususkan bagi wanita, namun Biyouin juga melayani pelanggan pria yang merasa kurang puas dengan perawatan Riyouin karena dianggap monoton dan kurang gaya (stylish). 
Meja kasir salon Pria (Riyouin) di Jepang
Foto: Tetsu Konishi
Penata rambut sedang merapihkan rambut pelanggannya
di salon khusus Pria di Jepang (Riyouin)
Foto: Tetsu Konishi


Ada harga, tentu ada kualitas. Jika tarif rata-rata untuk potong rambut di Riyouin berkisar 900-3.500yen (Rp100.000-400.000), lain halnya dengan Biyouin yang rata-rata memasang tarif lebih mahal, yaitu 3.500-4.000yen (Rp400.000-500.000) untuk sekali perawatan. Di Biyouin semua perawatan dari ujung rambut hingga ujung kaki bisa didapatkan, kecuali satu, yaitu jasa cukur kumis. Di Jepang, jasa cukur kumis hanya boleh disediakan di salon khusus Pria saja (Riyouin). Meskipun demikian, sebelum menyediakan jasa cukur kumis, Riyouin harus mengantogi izin terlebih dulu dari pemerintah Jepang, yang membidangi keamanan dan kesejahteraan. Info selengkapnya soal aturan cukur kumis bisa dibaca Wow di Jepang Ada Salon Khusus Cukur Kumis

Faktor keamanan dan keselamatan adalah hal yang paling diutamakan oleh pemerintah Jepang. Hal itu terbukti dari salon kecantikan yang tak luput dari pengawasan pemerintah.

Bagi warga Jepang, pergi ke salon adalah hal yang lumrah. Bagi golongan pria tua, sudah pasti akan ke salon khusus pria (Riyouin), tapi bagi pria yang selalu mengikuti trend fashion, maka ada salon wanita (Biyouin) yang menjadi pilihan. Kepada tim JPI, Tetsu San yang seorang dosen di Jepang mengatakan bahwa dirinya termasuk orang yang jarang ke salon, "kalo aku lama gak ke salon (Biyouin). Dua-tiga bulan sekali. Selain potong rambut, cuci rambut, massage, shoulder, pakai wax dll. Kerena kalo sebulan sekali malas dan makan uang," tutupnya melalui pesan singkat whatsApp.

Bagaimana, mau mencoba? (DF)

Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.