Gadis Manis Menangis


Oleh : Jihan Suweleh
            Gadis berjalan di pinggir taman. Tangan kanannya memegang buku harian. Matanya sayu akibat menangis semalaman. Sesekali angin meniupkan rambut pirangnya hingga menutupi kegelisahannya. Tiba-tiba Gadis menghentikan langkah kakinya, ia mengusap matanya yang telah bercucuran air mata.
            Pinggangnya kini telah bersandar di kursi taman berwarna keemasan. Dibukanya buku harian setebal seratus halaman dengan perlahan. Napasnya terpenggal di ujung tarikannya. Lembar demi lembar dijejaki jari-jarinya. Ia biarkan kertas putih itu menikmati air matanya yang telah berjatuhan.
            Gadis ingat betul bagaimana cara ayahnya meninggalkan ibunya. Saat itu ia masih tujuh tahun, rambutnya pun masih di kepang dua dengan kunciran merah muda. Ibu berteriak, memaki pria berkulit sawo matang itu berkali-kali. Ayah Gadis tak menoleh barang sekali saja, ia melaju dengan koper bercorak kotak-kotak yang dipegang tangan kirinya.
            Gadis menangis sambil menggendong Manis. Lehernya sakit menahan tangis yang akhirnya pecah juga. Di hadapan bayi perempuan yang pusarnya masih basah, air matanya bertumpahan. “Manis, kelak kamu akan menjadi perempuan yang kuat,” ujarnya. Senyumnya mengembang perlahan, serupa rengginang yang baru matang. “Kita. Kita akan kuat,” lanjutnya.
            Gadis merindukan pelukan ayah—yang ia pikir pernah ia rasakan sebelumnya. Kadang ia merasa meleleh seperti lilin, sekaligus membeku di atas ubin—ketika ia ingat ayahnya yang belum tuntas ia kenali.
            Gadis beranjak sebagai remaja putri yang dianggap kurang cantik. Sebulan lalu umurnya genap delapan belas tahun. Tubuhnya tak diselimuti barang-barang mentereng, ia pun hidup di rumah dengan atap berbahan seng. Iri tak pernah hinggap di hatinya, namun ia tak bisa bersembunyi dari kesedihannya—melihat teman-teman seusianya—mereka tertawa di hadapan banyak orang, bercerita tentang pria yang mereka suka, sekaligus teman perempuan lain yang tidak mereka suka.
            Ayah Gadis berselingkuh dengan wanita lain. Wanita keturunan Pakistan yang besar di tanah Sunda. Mereka memiliki dua orang anak kembar, yang umurnya hanya berbeda empat bulan dengannya. Sejak ayah pergi, ibu makin menjadi-jadi. Ia sering memaki hanya untuk hal-hal yang kecil. Beruntunglah Gadis, dan Manis tak memiliki dendam untuk kedua orangtuanya. Walau orangtuanya tak memedulikan mereka.
Kita menangis, lalu ditertawakan
Kita tertawa, lalu disambut dengan tawa
Kita lahir berair mata, mati meninggalkan luka
Kita orang-orang bodoh yang terjebak di dalam pikiran
            Puisi Gadis telah mencapai lembar ke tujuh puluh. Buku hariannya telah ramai ia rayakan dengan puisi-puisi sendu tentang kesunyian hidup. Ia menulis, menikmati kegilaannya. Ia merasa memiliki kawan dalam buku hariannya.
***
            “Kak, kenapa kita harus menyayangi orangtua? Menyembah Tuhan, dan menghargai sesama?” Gadis ingat pertanyaan Manis empat tahun yang lalu, mereka duduk di teras rumah sambil meminum secangkir teh manis.
            “Keyakinan bukan untuk dipertanyakan, Manis,” jawabnya.
            “Maksudnya?” dengan wajahnya yang polos, kala itu Manis bertanya lagi.
           “Iya, cinta, dan Tuhan itu gaib. Mereka tak perlu bukti, sebab keyakinan memang bukan untuk dipertanyakan. Ketika lahir kita tak bisa memilih menjadi apa, dan bagaimana, kita hanya tahu semua dari lingkungan, dan pengalaman.” Gadis menatap adiknya yang memiliki nama sesuai dengan wajahnya. Manis.
            Gadis meratapi percakapan bersama adiknya. Di dalam pikirannya melayang beribu duka. Adiknya masih berusia sepuluh tahun. Ia telah mengalami kekerasan seksual yang dihadiahkan oleh pamannya sendiri. Sudah setahun belakangan, Manis mengalami kesakitan di daerah kemaluan. Tak ada yang tahu bagaimana kronoligisnya. Gadis hanya sempat melihat si keling—kakak dari ayah mereka—memaksa mencopot seragam sekolah bocah berambut sebahu itu di ruang tamu.
            Kegelisahan Gadis menjadi-jadi kala itu, sebab sering ia temukan noda darah di celana dalam adiknya. Ibu telah pergi meninggalkan mereka. Gadis, dan Manis diasuh oleh pamannya—yang ternyata seorang Pedofilia.“Ibu, ibu kemana? Ibu dimana?” lirih Gadis di malam hari. Ia menangis melihat adiknya yang sedang tidur memeluk guling.
            Gadis, dan Manis bernapas untuk mati. Gadis, anak sulung berkulit hitam, bertubuh kurus kering, matanya selalu sayu, bibirnya jarang tersenyum. Ia menyimpan duka yang ia rahasiakan. Manis si anak manis, bergigi gingsul, kulitnya lebihputih dari kakaknya, ia tersenyum, tapi matanya memancarkan kebisuan. Gadis, dan Manis bernapas untuk mati.
            Menjadi makhluk yang sedih, bukan hal yang perlu ditangisi kembali. Gadis, dan Manis menjalankan hidupnya sebagai orang-orang kuat yang dipandang lemah. Perempuan-perempuan tak berkawan, menyendiri, akibat nasib yang tak berpihak pada kedua kakak-beradik ini. Sebagai anak dari wanita yang juga mantan pelacur, mereka menghadapi dunia dengan berbagai ketakutan.
            “Manis, kamu sadar nggak sih, sudah berapa lama kita terjebak di tubuh brengsek ini?” Gadis menggulung-gulungkan rambutnya di atas kasur.
            “Aku rasa aku baru lahir kemarin,” jawab Manis di atas kasur yang sama.
            “ Salah tau, kita sudah terjebak selama berjuta-juta tahun. Seumur dinosaurus,” jawab Gadis tertawa. Mulutnya terbuka lebar dengan wajah yang terangkat.
            “Ih, bodoh kamu. Sudah jelek, bodoh lagi! Kita itu masih bayi tahu, nggak punya dosa,” tangkasnya.
            “Sudah, sudah, sekarang minum dulu obatnya ya, Gadis, Manis.” Suster membawakan sejumlah obat lengkap dengan dua gelas air putih yang ditaruh di nampan berwarna cokelat tua.
            Suasana Rumah Sakit Jiwa menjadi lebih hangat sejak kehadiran suster cantik bernama Hani. Gadis Manis menangis meninggalkan pertanyaan. Benarkah tertawa menyehatkan, dan tangis adalah kekhawatiran yang memenggal bahagia. Sementara kelahiran ingin kita berair mata, dan kematian ingin kita tersenyum melepaskan beban. Adakah yang mesti dihapus dari wajah?
Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.