Peringatan Dunia Lain

Ilustrasi : Google Images

    Mendengarkan musik dangdut yang nyaman di telingga dan asyik buat bergoyang, membuat bibir Reni tidak bisa diam, alunan nadanya yang merdu memaksa reni untuk mengikutinya, dengan goyang ala neng cantik saskia gotik “1000 alasan” lagu yang menyiratkan isi hati reni yang sedang kecewa dengan bobi yang sibuk sendiri dengan bisnisnya yang tidak jelas.
“Nita, hani, siska, sini, kita dangdutan,” Teriak reni sambil goyang itik. Reni memang orang yang super pede, biarpun suaranya serak bikin kerongkonganya kering, sampai otot yang ada di lehernya keluar karena cara nyanyinya seperti orang lagi BAB.
Nita yang sering protes dengan suara reni, kali ini hanya bisa pasrah mendengarnya bernyanyi, nita tau sahabtnya sedang kecewa lantaran pacar yang dibangga-banggkannya tidak datang lagi. “Pintar juga loe pilih lagu” Sindir Nita lalu duduk. Nita tidak tertarik mendengarkan reni bernyanyi, untuk menghormati ajakan sahabatnya nita terpaksa keluar, dan  mengeluarkan tabletnya, mendengarkan bincang di radio.
“Loe nga binggung dengernya, Nit?,” Tanya Hani “ah…aku lupa” Hani paham dengan kode yang di berikan Nita padanya. Hani ikut bernyanyi bersama reni, begitupun dengan siska anak rajin yang sangat patuh pada kedua orang tuanya.
“Tok..tok..tok..” Tidak ada satupun yang mendengarnya
“Tok..tok..tok..” Siska mendengar suara ketokan pintu yang begitu samar di telingganya “Sttt, loe dengar nga? Sepertinya ada tamu?” Siska menghentikan nyanyian reni dan hani, sementara nita masih asyik dengan radio yang di dengarnya.
Semuanya diam dan memastikan kalau di luar ada tamu, bisa saja siska salah dengar, wajar temannya sedikit tidak percaya dengan siska, akhir-akhir ini siska sedang mengalami gagal pendengaran. Ini tidak sama dengan tuli, gagal pendengaran adalah suatu keadaan dimana antara syaraf yang ada di telingga dengan syaraf yang ada di otak tidak bekerja dengan baik, akibatnya saat kucing mengeong. Siska dengan cepat langsung mencari sumber suara yang tadi di dengarnya “Ada suara bayi, denger nga? Ah…kalian semua telinganya parah.”  Siska kesal. Ala detektif siska mencarinya samapai di tempat sampah (Siska teringat berita seorang ibu yang membuang anaknya hasil hubungan gelap di tempat sampah, untungnya ada warga yang melihatnya. Anak selamat, ibu diamankan polisi. Lha…ayah si bayinya mana?...ada yang tau??). Tapi itu masih wajar, soalnyakan hampir mirip suara kucing dengan suara bayi. Nga percaya? Buktikan sendiri ya.
Tapi yang paling parah saat siska disuruh dosen memanggil Boboyun, siska malah memanggil doydoy. Kalau di lihat keduanya tidak ada mirip-miripnya. Boboyun keturan cina sedangkan dodoy keturan jawa, dari warna kulit saja sudah beda, bentuk mata juga, yang satu sipit dan yang satu lagi bulat. Kasihan boboyun yang sedang terkena diare buru-buru ke toilet di cegah oleh siska di suruh menghadap dosen, alhasil boboyun terkentut-kentut di hadapan dosen. Memalukan, ini semua karena ulah siska.
“Tok..tok..tok..” Siska memberikan kode kalau apa yang di dengarnya kali ini benar “apa aku bilang, itu suara ketok pintu,” Siska bergegas membukakan pintu.
Sambil menunggu tamu siapa yang datang, semuanya sibuk memeriksa hp. Reni terkejut ada tiga panggilan tidak terjawab “Pacar gue telepon, Akhirnya Doi inget juga kalau dia punya pacar cantik, tapi Kapan? Ko gue nga denger?” Reni langsung menelpon balik “maaf, nomer yang ada tuju sedang sibuk silahkan tinggalkan pesan setelah nada berikut, tut.”
Reni  senang dan begitu yakin dengan tamu yang datang adalah pacarnya, Reni merapikan bajunya  dan menambah lipstiknya biar lebih menyala seperti lampu tembak yang bikin mata silau,  Reni bergegas menyusul siska “Biar aku yang buka pintunya…” Teriaknya.
“Astaga! Reni!siapa lagi yang mau buka pintunya, gue cuma mau ngintip, siapa yang datang?,”Siska kesal dan pergi, padahal sudah di depan pintu tinggal buka, sepertinya tamu penting, karena sudah beberapa kali mengetok pintu, yang siska takutin adalah ibu kos yang mau menagih uang bulanan “Mungkin ibu kos? Mau menagih?”Siska terkekeh.
“Krek”
“Say…ang” Reni terkejut, karena mendapatkan tamu yang tidak ia harapkan
“Sayang-sayang! Sayang pal aloe peang. anak saya lagi sakit gara-gara dengerin suara fales. Sudah berapa lama kamu jadi penghuni kos ini? Sepertinya mahasiswa baru? tau aturan nga sih? Lihat ini sudah jam berapa ini?, anak saya lagi sakit, jadi tolong kecilkan suaranya, kaya suaranya bagus, fales tau! Ingat jangan berisik!” Ibu tetangga kos marah-marah, mulutnya yang kesal masih saja ngedumel sambil berlalu. Maklum ibu-ibu yang hobinya gosip sana-sini.
Reni kembali dengan raut muka cemberut “Dasar gendut”
Hani yang merasa berat badannya naik dari 45 menjadi 54 “Aku nga gendut,”Suara Hani pelan dengan melihat seluruh badannya, siska dan nita binggung dengan yang dikatan reni. Apakah reni marah dengan hani? Hingga mengataka hani gendut? Tapi apa salah Hani?
“Rasanya ingi gue cincang! lalu gue makan!” Reni semakin kesal
“Ren? Loe baik-baik saja, kan?,” Tanya Nita yang kini sudah tidak lagi mendengarkan radio, nita merasa kasihan melihat hani ketakutan lantaran reni mengancam mau memakannya.
    “Gue kurang baik! Gue pengen makan orang!” Tatapan mata tajam reni membuat ketiganya takut, apalagi hani yang hendak reni makan.
“Kabur,” Bisik Nita yang dikuti oleh Hani dan Siska.
“Sepertinya si gendut belum pernah muda! yah..benar!, sepertinya dari kecil dia langsung berubah menjadi tua, seperti sekarang ini” Reni tertawa. Langkah ketiga temannya terhenti dan melihat reni “Reni, seperti kemasukan setan,” Bisik siska
“Hey… kalian mau kemana?”
Ketiga temannya langsung pergi ke kamar siska dan mengunci pintu kamarnya
“Kalian semua tega ninggalin gue, gue lagi sedih…”
Reni kembali ke ruang tv untuk menghibur suasana hatinya yang sedang kacau. tidak ada satupun dari teman satu kosannya yang mengerti kondisinya. Reni tidak peduli kalau dirinya bakal dimarahi lagi oleh ibu gendut tentangga kosannya, reni lanjutkan lagi bernyanyi. Kali ini reni bernyanyi lagi galau.
Malam semakin larut begitupun dengan rasa sedih reni, ketiga temannya masih berada di kamar siska. Pukul 00.00 reni yang tertidur di ruang tv mendengar suara ketokan pintu. Reni langsung membuka pintunya “Sepi, tidak ada ibu gendut,”Reni langsung menutup pintunya, reni masih belum sadar karena rasa lelah sudah nyanyi untuk menghibur diri, hingga suaranya serak.
Tiba-tiba ketiga temannya datang dengan wajah pucat dan lemas seperti orang sakit, tidak seperti biasanya reni mendapatkan ketiga temannya dalam kondisi yang aneh.
“Wajah kalian ko pucat banget? Badan kalian juga dingin banget seperti es” Reni memegang satu persatu temannya “Kalian sakit? Makanya jangan tinggalin teman yang lagi sedih, itu akibatnya,” Reni mengambil slimut.
“Gue, tidak sakit” Yang mirip Nita
Reni heran dengan kamar siska saat mau mengambil slimut, kamar siska terkunci. Nita yang mendengar suara reni, terbangun dan membangunkan kedua temannya. Reni kembali ke ruang tamu dan membagikan selimutnya.
“Aneh, kalian ko pucat banget seperti hantu tau,”Reni santai
Ketiganya tertawa dan tertawanyapun lain tidak seperti biasanya
“Memang benar” Kata yang Mirip Siska dan di susul dengan tawa
“Nga lucu tau becandanya, Ih…serem, tertawa kalian mirip kuntilanak,” Kali ini Reni mulai takut.
“Siapa juga yang lagi ngelawak” Ketiganya menatap Reni dengan tajam dan tertawa.
“Jadi…kalian bukan teman gue,  beneran se..se..setan…” Reni menjauh dari ketiganya dan terus mengatakan “jangan ganggu gue…jangan ganggu gue.”
“Jangan ganggu kami, jangan berisik di rumah ini” Kata yang mirip Hani
Ketiga teman reni keluar dari kamar siska, melihat reni ketakutan dan bicara sendiri membuat ketiganya khawatir dan kasihan.
“Jangan ganggu?” Ketiganya tidak mengerti dengan apa yang dikatan Reni, siapa yang ganggu dia malam-malam gini?. Ketiganya mendekati reni, namun reni malah ketakutan dan terjadi kejar-kejaran. Reni mengira ketiganya hantu. Ke empatnya berhenti dan dikejutkan suaran yang membuatnya takut.
“Wahai penghuni kos jangan berisik”   
Dan akhirnya reni sadar,  hantu yang ditemuinya tidak lagi menyerupai wajah sahabatnya. Reni memeluk ketiganya dan masuk kedalah kamar siska dengan memanjatkan doa-doa.
---selesai---        

Tentang Penulis:
Ida Royani, pecinta Mie Ayam. Mau nraktir bisa hubungi melalui Intagram Dha.Roy atau Facebook Ida Royani
Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.