Hujan Bulan Kedua Belas

Ilustrasi www.starjogja.com

Aku kembali bertemu Desember.
Bersandar pada tiang, menatap rintik yang turun di depan pekarangan.
Berbicara pada hati, menolak benci, menerima kenyataan bahwa tahun ini segera akan berakhir.

Kata dongeng, bulan ini bulannya salju.
Tapi yang datang ternyata hujan.

Aku menyukai hujan, katamu.
Namun mengapa kamu menolak ketika aku mengajakmu berlarian diantara gerimis tanpa payung?
Jika kamu mencintai hujan, kenapa kamu tidak ingin kebasahan?
Apa seperti itu juga perasaanmu kepadaku? 

Kamu mencintaiku, tapi tidak mau sulitnya.

Mungkin harapanku padamu terlalu jauh.
Aku menginginkan kamu seperti hujan dan Desember.
Nyatanya, kamu hanya menjadi Desember tanpa Hujan.
Sementara aku adalah Hujan tanpa Desember.

Suatu hari, hujan akan menahanmu disini.
Bersamaku.
Berlarian di pekarangan warna warni.
Di penghujung Desember,  kita menutup suka duka diantara rerintikan tanpa payung.

Jakarta, 18 Des 2017
Yazhume Alfian
Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.