Cerpen "Kaba Galodo" Oleh: Sella S. Sembiga

Kaba Galodo
Oleh: Sella S. Sembiga


Gambar : courtesy of http://static.panoramio.com


Pasir Laweh
30 April 1979

“Buuuummm!!!”
Suara gemuruh yang datang dari Puncak Merapi pada pukul satu pagi itu menjadi hentakan yang amat dahsyat untuk memecah heningnya suasana.
Aie...Aie...Aie...!!! Teriak salah seorang warga Pasir Laweh diikuti oleh sahutan yang lain yang menjadi sahut-menyahut.
Sahut-menyahut ini tentang air, bukan air yang jumlahnya sedikit seperti saat kita buang air, ini air bah. Jikalau di Jawa pasti disebut sebagai bandang namun tidak di sini-diranah minang-galado orang bilang.
Uda! Bangun, da! Dengar orang-orang di luar, da! Galado lah tibo, Da.” Ujar seorang wanita muda sambil memegangi perut buncitnya. Ia meringis menahan tangis.
Ado a’ lai?” tutur seorang pria-yang kita ketahui kemudian sebagai suaminya. Lelaki itu menguap lalu tersentak karena suara berisik dari seluruh penjuru kampung. Dan kini wajahnya terlihat memelas menahan iba pada istri yang dikasihinya. Istrinya hampir pingsan menahan gejolak dari dalam rahimnya yang memaksa keluar pada waktu yang sangat genting ini.

Pasir Laweh
Januari 2009

“Ya, benar seperti itu gerakannya, Zal. Sekarang kau lakukan pukulan ke depan, tapi tangan jangan dikepal.” Ujar seorang gadis (jika bisa dibilang begitu mengingat usianya di penghujung kepala dua. Namun benar dia masih melajang. Tapi kau tidak perlu mengatakannya) dengan lantang.
Uni Aylah. Selepas ini kita boleh istirahat? Kami lelah uni.”Anak laki-laki yang tadi dipanggil Zal itu mengiba pada Aylah. Guru seni teater di sekolahnya. Rencananya mereka akan mengadakan pentas teater pada bulan Ramadhan. Bulan yang dinanti umat muslim di dunia.
“Baa! Ini baru saja sebentar, Zal. Selesaikan dulu adegan yang ini. Setelah itu barulah selesai untuk hari ini.” Suara nada protes terlontar dari para murid-muridnya. Dia berupaya untuk memegang kendali suasana kelasnya melalui intruksi tangannya.
***
“Begini, Mak Adang.” Seorang anak laki-laki membuka pembicaraan mereka. Namun hatinya merasa gugup. Kalut.
“Tak usah kau jelaskan, Sril. Saya paham maksud Nak Asril. Hendak mengajukan diri untuk mengambil alih kepemimpinan terhadap putri saya dari saya, kan?” lelaki tua itu berbicara tanpa memandang lawan bicaranya. Beliau lalu  menyeruput kopi luwak hasil dari kebunnya sendiri dan juga diolahnya sendiri.
Lelaki muda itu, Asril. Semakin menjadi-jadi gugupnya. Bukannya menjawab atau mengklarifikasinya, tapi malah menyatukan kedua tangannya yang bergetar sambil memainkan timpa jempol kiri-kanan-kiri-kanan.
“Apa kau tak paham juga? Saya tidak ingin Aylah menikah. Saya tidak akan menikahkannya dengan siapapun bahkan dengan pemuda lulusan universitas luar negeri dan penghafal Al-Quran sepertimu. Saya tahu ini sulit dipahami. Tapi keluarga kami telah memegang sumpah demi kemaslahatan dan keselamatan kampung ini.
“Kau masih muda. Kau pasti tak paham bahwasanya di bumi bukan cuma sekedar pengetahuan aljabar, sastra dan politik saja. Namun ada juga pengetahuan dan kepercayaan akan nilai-nilai yang sudah mendarah daging. Ada pemahaman yang untuk memahaminya maka kau harus berpura-pura tidak paham pada pemahaman lain yang bahkan sebenarnya sangat kau pahami. Paham kau, Sril?” kata Pak Asmen-yang di panggil Mak Adang oleh Asril. Asril semakin mematung seperti patung kepala burung. Diam dan tak utuh.
Pak Asmen yang saat awal menerima kedatangan tamunya itu dengan baik, seperti Sunnah Rasul. Memuliakan Asril. Namun karena kelakuan diam mematung dan tak utuhnya memicu kekesalan Pak Asmen.
“Sudah. Ingat, bukannya saya mengusirmu. Tapi saya hendak menyiangi rumput yang mengganggu tanaman cabai muda di kebun. Jika kau tak berniat membantuku lebih baik kau pulanglah saja, Sril!”. Asril bingung. Masih gemetar. Dengan perasaan berat dan penuh pertanyaan yang akhirnya tak ada satu pun yang ia tanyakan. Ia lalu pamit pulang.
“Baik, Mak Adang. Saya pamit dulu. Assalamualaikum!
“Waalaikumsalam.” Ucap Pak Asmen sambil menyeruput isi cangkir kopi Asril yang memang sama sekali belum disentuh bibir.
***
Uni Aylah mengendarai sepedanya dengan santai.  Belum sampai ia di gerbang Rumah Bagonjong milik mendiang ibunya. Ia lalu berhenti. Dilihatnya mobil Pajero hitam yang kelihatan sekali masih baru. Keluar dari arah gerbang. Aylah tahu pasti siapa pengendara mobil yang bisa dibilang mewah itu.
“Pak, hendak ada keperluan apa Uda Asril kemari?". Aylah bertanya kepada ayahnya yang masih belum bergeser dari tempat duduk saat mengobrol dengan Asril di gajebo tadi.
“Melamarmu.” Jawab Pak Asmen  singkat disertai gerakan cepat hendak ke tangga masuk ke rumah.
Aylah hingga sekarang masih bingung saat seharusnya ia sudah hidup berpisah dari ayahnya. Pak Asmen selalu menolak pria yang datang untuk melamar putrinya.  Apalagi pria bernama lengkap Asril Tanjung ini adalah pemuda yang kalau boleh dibilang-sangat sempurna, mapan, cerdas, tampan dan yang terpenting: soleh. Aylah memang belum menaruh hati pada pria manapun. Aylah berusaha untuk bisa menjaga diri, hati dan pikirannya untuk tidak dulu mencintai seorang pria sebelum ada ijab kabul
Namun, apa mau dikata. Bagaimanapun Aylah adalah wanita dewasa yang berprofesi sebagai guru yang pasti akan keluar rumah tiap harinya. Tentu hal ini mengandung fitnah. Kalau boleh dihitung, Asril adalah pria yang ke-22 yang ditolak lamarannya dalam kurun waktu delapan tahun ini, semenjak ia kembali dari ranah rantau di negeri Hassanal Bolkiah itu untuk kuliah.
Aylah sedang malas memikirkan berjuta alasan yang pernah dilontarkan Pak Asmen pada pria-pria yang berminat padanya. Aylah merebahkan diri di atas kasur. Akan lebih baik baginya kini untuk membuat laporan progres latihan murid-muridnya di SMPN 1 Rambatan dibandingkan memikirkan hal itu.

Pasir Laweh
Februari 2009

Hari itu-di awal bulan kedua. Rumah Bagonjong lebih ramai dibanding hari-hari lainnya. Saat itu memang sedang ada pertemuan yang memang tak terlalu besar namun sangat penting bagi keluarga Aylah.
Uda, ambo mohon uda berhentilah mempertahankan keyakinan uda itu. Ba’a kaba keluarga kita ni ,da? Aylah satu-satunya anak Padusi di keluarga ini. Dialah penerus keluarga kita. Masa depan dan kehormatan kita.” Kata-kata desakan seperti itu terus mengalir dari mulut Pak Zainal, adik ipar Pak Asmen. Adik ibunya, Seroza. Kalimat desakan dari Pak Zainal itu diamini oleh adik-adiknya yang lain; Pak  Zen dan Pak Syarif.
Ambo paham, Dik. Perempuan bagi kaum kita adalah tampuk kehormatan. Eksistensi keluarga kita hanya ada pada perempuan. Tapi, kalian mesti paham posisi uda. Uda sudah terikat oleh janji.” Pak Asmen memberikan penjelasan yang walau bagaimanapun penjelasan tersebut sangat tidak jelas bagi adik-adik mendiang Ibu Seroza. Mereka gusar. Tak sabar.
***

"Uda Zainal, bagaimana kalau kita ambil alih saja masalah Aylah ini, biarlah Uda Asmen. Kita ini kan mamaknya Aylah. Kita punya hak juga." sambil memakan buah salak dan membuang bijinya secara asal.
"Benar, ambo setuju, da." ucap Pak Syarif menimpali ucapan Pak Zen sambil memunguti biji salak.
Pak Zainal secara pribadi sangat setuju dengan usulan adik-adiknya. Akhirnya mereka merencanakan perkenalan atau biasa disebut ta’aruf. Sore itu, langit Pasir Laweh menjadi lebih cerah daripada biasanya bagi tiga bersaudara tersebut.
***
Hari ini Aylah mengayuh sepedanya jauh lebih bersemangat. Jam yang melingkar di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 14:00. Ia harus mengurus arsip terlebih dahulu di kantor guru. Padahal ia punya janji dengan ketiga mamaknya siang ini, pukul 14:15. Banjir peluh tak lantas membuatnya melontarkan keluh. Ia berharap pemikiran Pak Asmen bisa luluh.
"Mak Adang, maaf Aylah sedikit terlambat." ucap Aylah pada semua mamaknya.
"Tak apa Aylah. Duduklah di sini." Pak Zainal mempersilahkan Aylah duduk di sampingnya.
Aylah duduk dengan anggun namun agak canggung. Dihadapannya telah ada seorang pria yang nampaknya sebaya dengannya. Wajahnya cukup manis, tapi ia tidak menyadari itu. Dia tetap menunduk.
"Ini para mamak hendak mengenalkanmu dengan salah seorang asisten mamak di lembaga konservasi hutan. Hahaha. Orangnya menyenangkan. Jadi kau tak perlu  meragukan pilihan mamak kau.
"Mamak tak mungkin sembarangan."
Kali ini giliran Pak Zen yang berceloteh. Aylah tersenyum simpul dalam rangka membalas senyuman pemuda di hadapannya.
"Ada baiknya kalian berkenalan sekarang." Ujar Pak Syarif memecah kecanggungannya.
"Perkenalkan, saya Khairul Afandi. Panggil saja Irul." Ucap pemuda itu sambil menyatukan kedua telapak tangannya di dadanya."
"Aylah, Aylah Satinado." Balas Aylah sambil melakukan hal yang sama persih seperti pemuda di depannya.
Senyuman lebar memang tidak tampak terlukis pada wajah cantiknya. Namun kita semua bisa menebak apa yang kini ada dalam hati dan benak Aylah. Sebuah harapan besar.
***
Petani-petani sudah mulai menanam benih padi pada akhir bulan Februari ini. Sawah di Tanah Laweh terletak di bawah kaki Gunung Marapi. Konon, Gunung Marapi adalah salah satu gunung berapi teraktif di Pulau Sumatera. Penduduk yang lain juga sedang sibuk di ladang masing-masing. Kebanyakan ladang itu berada di pinggang gunung sebelah timur. Sejalan dengan alirang Batang Selo. Karena terjamin kesuburannya. Untuk mendapatkan petak lahan di saman, para petani tak segan untuk membakar hutan. Suatu hal yang tak perlu ditiru.
Hari minggu ini, meski tak ada kesibukan mengajar. Namun Aylah tetap sibuk. dia akan bersua dengan Abang Irul sore ini di rumah Mak Zen. Tentunya dia tidak akan menemui kesulitan untuk meminta izin kepada ayahnya untuk pergi ke rumah Mak Zen yang berada di ujung desa berbatasan dengan Kecamatan Mandahiling.
“Dik Aylah, buku apa itu?” ujar Abang Irul ketika melihat Aylah memasuki teras rumah Pak Zen.
“Soe Hok Gie, da” jawab Aylah. Ia lalu langsung duduk di kursi yang ada di teras juga, namun agak berjauhan dengan Abang Irul. Aylah masih punya malu.
“Oh saudaramu ya?” Kata Abang Irul.
“Jangan sok tahu, uda. Saya belum kenal.” Aylah menjawab agak ketus. Pikirannya menilai begitu sok tahunya pikiran Abang Irul atau yang ia biasa panggil uda olehnya. Dia menengok ke dalam rumah. Dia melihat mamaknya sedang asik menonton televisi.
“Begini, Dik Aylah. Pertama, panggil saja saya abang saja. Jangan uda. Saya lebih nyaman dipanggil abang daripada dipanggil uda. Karena kita hendak membangun hubungan yang kuat maka jauh lebih baik dimulai dengan kenyamanan.
“Lagipula abang tidak keberatan dengan sikap sok mahalmu, dik. Abang malah lebih suka. Yang artinya kau memang menjaga apa yang memang seharusnya dijaga.
“Kedua, pamanmu, Pak Zen, bilang pada abang bahwa kakek dari kakekmu melalui pihak ibu adalah anak dari kepala kaum dan masih memiliki kekerabatan dengan keluarga Kerajaan Minangkabau.” Ucapan Abang Irul berhenti. Ia perlu menghela napas namun matanya sempat curi pandang pada Aylah yang kini mulai memberi perhatian penuh pada lontaran kata-kata Abang Irul. Aylah memang manis apalagi dengan gamis warna yang Abang Irul pun tak paham apa warnanya. Seperti campuran jus mangga dengan jus stroberi. Tidak mencolok namun menohok dengan kesederhanaan.
“Lanjutkan, bang! Aku mau dengar.” Ujar Aylah agak sedikit berseru. Sepertinya dia mulai tertarik pada sosok baru dalam hidupnya itu.
“Kakak kandung Soe Hok Gie, Soe Hok Djin atau terkenal dengan nama Arief Budiman adalah seorang dosen sekaligus psikolog selain menjadi aktivis. Beliau menikahi adik kandung dari mantan Menteri Pertanian Kabinet Pembangunan VI, Sjarifuddin Bagasjah, yaitu Leila Chairani Budiman. Leila dan Sjarifuddin adalah anak dari Sutan Pangeran Baharsjah. Ayah mereka adalah anak dari cucu Raja Minangkabau, Sutan Bagagarsjah.”
***
“Terserah kau lah! Ayah sudah bilang nanti-nanti saja kau menikah.” Pak Asmen sedikit membentak Aylah.
Aylah tak pernah paham tentang hal ini. Tapi dia sudah tidak mau begini. Dia juga malu. Bahkan banyak anak dari kaumnya saat masih kanak-kanak dulu, kini anaknya sudah menjadi murid Aylah.
“Ayah, bukan Aylah bermaksud kurang ajar. Ayah tak mau mengatakan alasan Aylah masih menunda. Aylah sudah hampir 30 tahun, yah. Menikah adalah sunah Rosul kita, bahkan penyempurna agama.” Pak Asmen terdiam. Dia juga bingung bagaimana caranya memberitahu pada Aylah bahwa pernikahan Aylah bukannlah acara sembarangan. Jauh lebih sakral dan sangat berpengaruh pada kemaslahatan orang-orang di kaki Gunung Marapi. Pak Asmen sungguh ingin berbahagia, ingin merasakan gugup sebagai wali nikah, ingin merasakan senyum lebar saat mendampingi putri semata wayangnya di pelaminan. Sungguh. Namun sumpah itu, sumpah yang harus dia genggam hingga kematiannya. Sumpah yang ia ucap selepas kelahiran Aylah. Sumpah yang ia tahu kalau dilanggar maka musnahlah kampung-kampung di kaki Gunung Marapi.
Pasir Laweh
Maret 2009

Ba’a Aylah, kau takkan kecewakan amak-amakmu ini kan?”
Aylah menutup mata berusaha untuk tidur tapi tak bisa. Masih terngiang di benaknya akan pertanyaan dari kesemua amaknya dan dia belum memberikan jawaban. Kerumitan ini dipicu oleh pernyataan Abang Irul tentang “kecenderungannya” untuk mempersunting dirinya sesegera mungkin. Dia tak habis pikir, bagaimana mungkin orang yang baru dikenalnya kurang dari sebulan itu begitu mudahnya untuk terpesona dan mencenderungi diri Aylah. Pelik.
***
“Jadi kita tentukan waktunya akhir bulan ini, Senin 30 Maret. Agar ayahmu tak curiga. Kau izinlah dari sekolah. Semua hal biar mamak-mamakmu ini yang urus.”
Keputusan itu diambil juga. Keputusan  berat yang sebenarnya masih menyisahkan kebimbangan di hati Aylah.  Dia menerima dengan ikhlas lamaran Abang Irul yang diajukan pada mamaknya. Tapi yang membuat hati Aylah bimbang sungguh bukanlah karena dia baru mengenal sosok Abang Irul melainkan ayahnya. Jadi rencananya dia akan menikah tanpa memberitahu ayahnya, tanpa restu walinya. Sedangkan perwalian sendiri akan diambil alih oleh Pak Zainal, sebagai mamak tertua. Pernikahan direncanakan di luar kampung, di Kota Batu Sangkar. Selama penantian menuju tanggal sakral tersebut, Aylah berusaha tenang tapi tetap saja gusar. Pak Asmen tidak mencium rencana berani dari saudara istrinya itu. Pak Asmen tetap tenang dan tidak mengetahui bahwa takdir akan tetap terjadi meskipun dia berusaha sekeras apapun.

Batu Sangkar
30 Maret 2009

“Kau lah siap, Rul?” tanya Pak Zainal kepada Abang Irul. Kini mereka berenam ( Aylah, Abang Irul, Pak Zainal, Pak Zen, Pak Syarif dan penghulu). Telah ada dalam suatu ruangan yang tidak terlalu megah namun mendatangkan perasaan tentram, masjid. Masjid Agung Batu Sangkar akan menjadi saksi bisu bagi peristiwa penting itu. Sebenarnya mereka tidak berenam, akan hadir pula istri dari Pak Zainal dan Pak Zen, sementara istri dari Pak Syarif tidak bisa hadir karena mempunyai seorang bayi yang baru saja lahir sehingga tidak bisa dibawa perjalanan jauh.
Sesaat setelah kedatangan Bu Zainal dan Bu Zen akad pun dimulai. Ada juga saksi-saksi dari pihak Abang Irul. Bila dari pihak Aylah sudahlah tentu Pak Zen dan Pak Syarif. Sementara Pak Zainal tidak turut karena beliau berlaku sebagai wali Aylah.
“Saya terima nikahnya Aylah Satinado binti Asmen Satinado dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai.” Abang Irul menyelesaikan mantra sakti yang ia ikuti dari perkataan bapak penghulu.
“Sah!!! Sah!!! Sah!!! Sah!!!” ucap para saksi.
Dan para malaikat mengamini disertai tetesan mutiara bahagia dari mata bening Uni Aylah. Bagi seorang wanita, ada dua saat-saat yang paling dalam untuk dirasakan kebahagiaannya. Pertama saat seseorang membaca ijab kabul atas namanya. Kedua, saat melahirkan. Dan Aylah sedang menikmati salah satunya.

Pasir Laweh
30 Maret 2009

Pak Asmen tidak menaruh curiga kepada Aylah yang berangkat lebih pagi dari biasanya, yakni pukul lima pagi. Selepas shalat subuh. Beliau beranggapan bahwa putrinya itu sangat sibuk. Pak Asmen duduk di gajeboh seperti biasa karena ini baru pukul tujuh lewat sedikit. Beliau akan pergi ke ladang jika matahari sudah agak benderang, bukan hanya sekedar mengintip.
Tiba-tiba...
Bummmmmbummm!!!
Suara gaduh dari Puncak Marapi tepatnya dari sasarah Gunung Marapi sebelah barat diikuti oleh ratusan kelelawar terbang bubar di langit yang memang kelabu karena hujan selepas maghrib kemarin. Sekonyong-konyong penduduk berteriak.
Aie....Aie...Aie...Batang Selo mengamuk!!!” ditimpali oleh riuh rendah jeritan anak-anak, ibu-ibu, dan bapak-bapak yang sibuk menyelamatkan diri tanpa sempat lagi untuk menyelamatkan harta benda yang dimiliki. Bau menusuk belerang dari magma dingin yang hitam meruap memenuhi seluruh penjuru kampung. Semua bangunan, pepohonan, ternak, perkebunan, orang dan apapun yang berada pada aliran Batang Selo turut hanyut karena tanah di pinggiran Batang Selo tergerus. Tak ada lagi yang mampu menahan karena akar-akar pohon besar telah bergantian menjadi akar umbi-umbian. Tak terkecuali Pak Asmen yang tadi sedang bersantai minum kopi, turut pula terseret amukan Marapi.
“Aylah...” Hanya kata itu yang mampu di ucapkan lirih sesaat sebelum terjangan lava hitam bau belerang menghantam tubuhnya.

Batu Sangkar
30 Maret 2009

“Selepas ini kita ke rumahku dulu. Biarkan Irul dan Aylah bisa mengakrabkan diri dan juga mempersiapkan diri menghadapi Uda Asmen.” Ujar Pak Zainal yang memang tinggal di Batu Sangkar. Semua rombongan langsung naik ke mobil Pak Zainal, kecuali Aylah dan Irul. Mereka berdua berboncengan naik motor Irul, sementara Aylah masih malu-malu.
“Ayolah, dik! Apa kau mau jalan kaki saja? Haha.” Irul mengajak Aylah sambil berkelakar. Aylah menurut saja. Tapi dia tidak berpegangan.
***
Setibanya di rumah Pak Zainal, semua orang langsung duduk di ruang tamu. Banyak hal yang harus dipikirkan. Sementara musik ruangan mengalun lagu” Rinduilah”.
“Istriku menelepon” kata Pak Syarif dengan segera mengangkat panggilan tersebut. Wajah Pak Syarif terlihat tegang, semua orang yang berada di ruang tamu turut tegang, terutama Aylah.
“Kampung kita tertimpa galado lagi!” Ucap Pak Syarif agak getir, ia lalu menengok ke arah Pak Zainal, menimbang-nimbang apakah ini ada hubungannya dengan pernikahan Aylah.
“Ayah!” Teriak ayah Aylah yang kemudian pingsan dipangkuan suaminya.

Pasir Laweh
30 April 1979

“Alhamdulillah! Anaknya perempuan, Pak. Selamat! Tapi maaf keadaan istri bapak sangat  lemah.” Ucap seorang bidan darurat di pengungsian induk Kecamatan Sungai Tarab.
“Za, bagaimana keadaanmu?” Tanya Pak Asmen lirih.
“Aku tak kuat lagi uda.” Jawab istrinya.
Dalam suasana haru itu, kepala kaum dan Datuk Haji Mudo masuk ke dalam tenda persalinan.
“As, menurut kejadian-kejadian masa lampau. Anakmu inilah penyebab bencana kampung kita. Dia penjelmaan dari leluhur yang jiwanya amat suci. Kelahirannya yang menyebabkan galado ini.
“Setiap kejadian terpenting dalam hidupnya dia harus “membersihkan” kampung ini dari “kekotoran” melalui perusakan.” Petuah kepala kaum tanpa babibu dan muqadimah yang tentu saja hal itu sangat mengejutkan Pak Asmen dan Bu Seroza. Perasaan mereka di persimpangan rasa senag juga sedih.
“Ada kejadian ini di masa lalu yang menyebabkan hal ini. Aku tak bisa bilang anakmu. sebagai kutukan, namun bukan juga sebuah anugerah. Tapi inilah takdirnya.
“Putrimu ini, kau berilah nama Aylah Satinado. Anak yang lahir saat peristiwa bencana galado. Dia harus tetap menjadi perawan seumur hidupnya. Dia tak boleh menikah. Jika hal itu terjadi...” kali ini giliran Datuk Mudo yang memberi penjelasan."
“Apa yang akan terjadi?” sergah Bu Seroza dalam kelemahan.
Galado akan menimpa kampung ini lagi. Sebagai konsekuensi penyucian.” Jawab Datuk Haji Mudo lantang. Entah jawabannya atau cara bicaranya yang menjadi momok bagi Ibu Seroza. Seketika itu pula ia berhenti bernafas. Selamanya.
-- SEKIAN –


--------------------------------------------------------------------------------------
TENTANG PENULIS
 Sella S. Sembiga, seorang juru masak yang memiliki kesukaan membaca buku yang bukan hanya buku resep. Kegemaran membaca inilah yang menjadi pematik untuk menulis. KABA GALODO adalah salah satu cerpen yang teronggok lama pada file komputer dan akhirnya di publisikan di www.jaringanpenulis.com



Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.