Hilang di Perantauan



Baru sepuluh menit yang lalu telephone itu menusuk telingaku dengan kabar kematian. Suara dari seberang, di kota kelahiran. Semua keluargaku habis di penggal. Suara itu seperti kilat yang membabi buta, mengoyak apapun yang ada dalam diriku saat ini.

Dunia tiba-tiba saja tersaji gulita. Dengkuran binatang malam mendadak bisu, hening, meninggalkan kerontang rintihan di dadaku. Remang pelita di sudut-sudut tembok sekelilingku seperti di telan Batara Kala. Perlahan, aku pun  hilang. Entah di dunia mana sekarang.

Tidak ada siapa-siapa disini. Pun tidak ada daya untuk berbuat apapun disini. Aku berusaha sekuat tenaga menggerakkan tubuhku, meronta sekuat napasku, merobek kelopak mata yang rekat mencari cahaya. Hanya itu yang bisa aku lakukan saat ini. Terus berontak. Melawan ketidaksadaran. Aku ingin pulang. Berkumpul bersama bapak, ibu, adik, dan simbah putri seperti dulu. Aku tak mau kehilangan impian membalas kebaikan mereka.

Demi senyum mereka aku berada di perantauan. Meskipun awalnya aku menolak kemauan bapak yang menyuruhku pergi setahun yang lalu. Saat para Jendral satu persatu dikabarkan hilang dan kemudian ditemukan tinggal nama. Orang-orang desa seperti terdakwa. Mereka yang bungkam maupun yang bersuara sama-sama kehilangan nyawa.

Bapak hanya orang desa biasa. Bertani ala kadarnya, dan mengaji kala dia suka. Hanya saja simbah kakung pernah bungkam ketika gerombolan berseragam mencecarnya. Simbah kakung tak bisa menunjukkan dimana markas  pemilik bendera palu arit.

#SenoNs

Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.