Cerpen: "Tentang Dusta" By: Einca Sarii

Tentang Dusta
By: Einca Sarii




Jika nanti waktunya tiba, akan ada sakit yang tercipta. Akan ada kebohongan yang terungkap. Mungkin akan ada kematian yang datang. Jika nanti bibirku tak sanggup untuk menyampaikan semuanya, mungkin lewat lembaran buku ini kamu bisa mengetahuinya. 

Mengetahui tentang semua tanya yang tak pernah sempat kujawab....

Aku terpaku menatap deretan terakhir dari semua tulisan yang tergores di dalam lembaran diary biru itu. Tepat di hari ke tujuh –sejak ia mulai tak sadarkan diri-  aku mengetahui semuanya. Sayang, aku mengetahui semua itu bukan langsung dari bibirnya. Aku mengetahuinya dari sebuah diary yang diberikan oleh kakaknya.

Kebohongan. 

Semua ia sembunyikan dariku. Dengan rapi dan tertata cantik. Sempurna. Aku benar-benar tertipu. Harusnya aku menyelidiki semuanya dulu sebelum aku jatuh ke dalam perangkap cintanya. Tapi terlambat. Gadis cantik itu memang telah berhasil menghancurkanku. Dan sekarang, ia terbaring tak sadarkan diri dengan berbagai macam selang yang memenuhi tubuhnya. Sementara aku, hanya bisa menyaksikan dari lorong, tepat di depan ruangan tempat ia dirawat.

“Maafin Dinda, Dika. Aku mohon....”

Aku menghela napas mendengar kata-kata yang keluar dari bibir Kara. Aku ingin memaafkannya, tapi kebohongan yang ia buat, hampir membuatku mati.

“Aku nggak tahu Kar. Aku...”

“Tapi Dinda begitu karena kamu!” Kara menyela tajam. 

Aku mengerjap. Karenaku? Bagaimana bisa? Tak ada satupun kalimat yang tertulis di diary itu, tentang kesalahan yang kubuat. Gadis yang kucintai dengan segenap jiwa dan sekarang terbaring tak sadarkan diri itu, hanyalah gadis pshyco yang ingin menghancurkanku dengan sebuah kebohongan berkedok cinta!

“Kamu nggak tahu kan kenapa Dinda melakukan semua kebohongan itu?” Kara menatapku tajam. Bibirnya bergetar saat berkata, “empat tahun lalu, kamu pernah menyakitinya. Ingat? perlakuanmu yang membuat Dinda pergi mendendam. Perlakuanmu juga membuat Dinda hampir mati bunuh diri.”

Aku terhenyak. “Maksudmu apa?” tukasku kesal.  Suaraku menggema di lorong yang tak seberapa ramai itu.

Kara tertawa sinis. Mata cokelatnya sekilas menatapku miris. Kara lalu mengalihkan pandang ke arah Dinda. Matanya menerawang jauh. Lalu aku melihat bening cokelat itu meneteskan airmata. “Empat tahun lalu, di lorong rumah sakit. Di Bandung. Harusnya kamu ingat. Waktu itu....”

Dan mengalirlah kisah yang sama sekali tak kuingat. Otakku memanas. Aku mencoba mencerna cerita yang Kara sampaikan. Perlahan ingatan itu mulai datang. Semua kilas balik berputar di kepalaku. Semuanya. 

***

Malam belumlah larut saat aku tiba di rumah sakit itu. Mataku liar mencari-cari di sepanjang lorong yang sepi. Hingga akhirnya aku menemukan gadis itu –Dinda- adik tingkatku di kampus, yang juga pacar dari sahabat baikku. Aku melihat ia duduk dengan tubuh gemetar. Rambut pendeknya basah. Bajunya kotor. Bahkan aku melihat ada beberapa bagian yang robek dari kaos biru yang ia kenakan.

“Apa yang terjadi? Kamu apain, Rian?” tuntutku begitu aku tiba di depan gadis itu. kedua tanganku mencengkeram erat kedua pundak Dinda. 

Dinda tergugu. Bibirnya bergetar. “A... ku... dia... bukan aku yang bikin dia jatuh ke jembatan. Bukan aku.” Gadis itu menjawab terbata. Matanya menatapku memohon.

“Bukan kamu? Kamu dorong dia! Iyakan?” Emosiku meluap. Aku bahkan mengguncang tubuh mungil itu dengan keras. 

“Tapi dia...”

“Pergi kamu dari sini! Kamu itu cuma cewek pembawa petaka! Kalau Rian mati, aku nggak akan biarin kamu hidup bebas!” 

“Bang...” 

Aku memalingkan wajah. Kudorong Dinda sekeras mungkin hingga gadis itu terjatuh. Aku sempat melihat matanya menatapku memohon. Tapi aku mematikan hati. Kutinggalkan ia sendiri di lorong dan aku bergegas masuk ke dalam ruangan tempat Rian terbarin lemah. 

***

“Dinda diperkosa. Oleh sahabatmu! Dan kamu malah mengusirnya. Harusnya kamu dengar penjelasan dia! Wajar nggak kalau Dinda mendendam?” 

Sinis. Tajam. Kalimat Kara menusukku telak. Dalam hati aku mengutuk Rian yang telah menipuku mentah-mentah! Andai saja waktu itu aku mau membuka mataku lebar-lebar. Kalau saja waktu itu aku mendengarkan penjelasan Dinda. Kalau saja....

“Dinda memang salah. Dia mendendam bertahun-tahun. Mencari celah untuk mendekatimu. Tujuan utamanya memang untuk membuatmu merasakan sakit yang sama seperti yang ia rasakan dulu.” Kara kembali berkata. “Tapi, satu kesalahan Dinda. Dia benar-benar jatuh cinta padamu. Kalau saja kamu ingat, sering Dinda mencoba mengingatkanmu tentang peristiwa empat tahun lalu.” 

Aku terpaku. Otakku kembali mencoba mengingat. Dan aku terduduk lemas di lorong dengan tubuh bergetar hebat. Ya Tuhan. Betapa bodohnya aku. 

“Aku, minta maaf...” lirih kata itu kuucapkan. 

Kara terisak. “Dinda sudah lama memaafkanmu. Jauh sebelum kamu meminta maaf. Yang Dinda butuhkan sekarang, adalah maafmu, Dika.” 

Ya Tuhan.... Aku menatap Dinda yang terbaring di dalam ICU, nanar. Aku ingin masuk ke dalam, sayangnya dokter tak mengijinkan.



Ara..., aku udah maafin kamu. Aku mohon, bangunlah. Aku harus mendapatkan maafmu juga. Aku mencintaimu.... Lirih hatiku berucap. Itu adalah sebuah permohonan. Aku bahkan memanggilnya dengan nama yang ia gunakan saat ia bilang ia mencintaiku. Nama yang ia gunakan untuk membohongiku. Kukerahkan segenap tenaga yang kupunya, kubisikkan barisan-barisan doa yang kubisa, dan berharap Tuhan mengabulkannya.

Tapi Tuhan berkehendak lain. Tepat saat aku selesai berdoa, bunyi panjang dari alat penyambung nyawa yang ia pakai, menghentak seluruh persendianku. Jantungku mencelos. Aku mendengar Kara mulai berteriak panik. Beberapa orang berseragam serba putih masukd an mengelilingi tubuhnya. 

Mataku terpaku menatap dokter yang berusaha membuat jantungnya kembali berdetak. Aku menghitung setiap menitnya. Dan di menit kelima, aku melihat dokter menggeleng lemah, bersamaan dengan seorang suster yang menutupi tubuhnya dengan selimut putih. 

Ara.... Ingatanku kemali memutar kalimat-kalimat yang sering ia ucapkan dulu. 

 “Surga dan neraka itu batasannya tipis. Keduanya berdekatan. Menurutmu, untuk orang yang pernah berbohong, setelah mati nanti, di mana ia akan diletakkan? Surga atau neraka? Menurutmu, seorang pembohong, berhak mati dengan tenang atau tidak?  Kalau suatu saat nanti aku berbohong padamu, kamu mau memaafkanku? Apa kamu malah akan membiarkanku mati dalam kebohongan itu?”
   

***

Profil Penulis:
Einca Sarii, gadis mungil yang biasa dipanggil Eca oleh teman-temannya ini, sudah hobi menulis sejak kecil. sudah banyak tulisan yang ia buat, akan tetapi hanya menjadi konsumsi pribadi teman-teman dekatnya saja. Sempat vakum menulis beberapa tahun, namun sekarang mulai aktif kembali. Baru saja aktif kembali di nunia blogger berkat dorongan teman-temannya. Untuk lebih mengenal gadis Bengkulu ini, bisa intip twitternya @eincasarii dan jika ingin mengintip beberapa tulisannya, bisa dikepoin di eincasarii.blogspot.com.
***
Setiap karya yang kami publikasikan hak cipta dan isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis Untuk Anggota Jaringan Penulis Indonesia yang mau mengirimkan karya harap mencatumkan subyek KARYA ANGGOTA + Tema Tulisan + Judul Tulisan pada email yang di kirim ke jaringanpenulis@gmail.com Bagi yang ingin bergabung menjadi Anggota Jaringan Penulis Indonesia silahkan ISI FORMULIRNYA DISINI 
Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.