CERPEN : KADO UNTUK SOPHIE Oleh: Andik S. Kasnata




KADO UNTUK SOPHIE
Oleh: Andik S. Kasnata


“Saat cinta sudah mulai pudar dan hilang,
hanya buah kasihlah yang bisa memupuk dan mengembalikan
keutuhan keluarga.”

****
“Ehem….Bagus yah, tiap hari selalu larut malam. Apa mungkin ada sesuatu yang lain?”
“Suami sudah capek kerja, sampai di rumah malah seperti begini. Aku ini kerja cari nafkah bukan kluyuran tidak jelas.”
“Ooohh…Begitu. Tapi ngomong-ngomong sekretaris baru juga cantik, muda lagi. Bagus juga buat teman kalau pulang.”
“Lah…Rumahnya kan searah dengan rumah kita.”
“Searah! Tapi bukan berarti kamu harus antar jemput tiap hari kan?
 “Suami sudah capek kerja malah dituduh yang macam-macam.” Tardi ingin beranjak dari perdebatan malam itu. Namun istrinya kembali menuduhnya dengan nada yang lebih tinggi.
“Semua tetangga dan teman kantormu juga tahu kalau kamu selalu mengantar Santi pulang kerumahnya. Aku pun tidak tuli. Semua orang sudah tahu, tidak usah mengelak!.” Dengan nada tinggi, menuduh Tardi.
“Kalau sudah tidak betah tidak usah pulang saja. Toh. Ini bukan rumahmu apalagi warisan orang tuamu. Aku beli rumah ini dengan pekerjaanku yang tiap malam harus bergadang menunggu orang melahirkan sedangkan kamu baru kerja dua bulan saja sudah mengeluh. Kalau tidak suka keluar sana!”
Pyuar…” Seketika seluruh ruangan menjadi gaduh.
“Memang aku baru kerja dua bulan, tanpa kamu sebutpun tetangga sudah tahu!”
“Tahu? kalau suamiku seorang pengangguran!”
Plak…” Tanpa sadar Tardi menampar istrinya yang menurutnya sudah melebihi batas.
“Sudah mulai kasar kamu. Pergi saja kalau tidak betah!” Sambil menangis menahan sakit hatinya.
            Malam itu, langit bergemuruh, awan menebal tanpa cahaya bulan atau bintang, hanya petir yang sesekali menyambar keluar dari awan. Hati yang makin beramarah meledak seperti Gunung Kelud yang meletus. Lahar panasnya meluber memenuhi semua ruang hati dan membakarnya. Habis. Pikiran jadi tidak menentu hanya langkah yang makin cepat dan langsung masuk ke dalam mobil.
Hujan mengguyur keras, sepercik penyesalan bercampur kekecewaan berkecamuk dibenaknya. Di balik kaca mobil Tardi melihat istrinya dengan keras menutup pintu rumahnya. Kemudian seketika ruangan jadi gulita. Tak lagi tampak. Ditancapnya mobil memecah keheningan malam menerjang hujan. Seketika hilang ditelan gelapnya malam.
Dari kejauhan masih terdengar bunyi mobil yang menjerit seakan tidak mampu lagi melaju. Tanpa banyak berpikir Tardi berhenti di sebuah restoran. Duduk melamun, membayangkan kejadian di rumahnya.
Tardi makin kalut. Sejejer minuman soda berbintang siap menemani malam. Pandangannya kosong menatap jauh keriuhan kota. Di luar, hujan masih mengguyur keras. Petir saling menyambar, menjilat-jilat di awan.
“Dulu dia tidak sekeras itu tapi mengapa semua jadi berbeda. Apa karna aku yang lama mengganggur dan menyusahkannya? Atau mungkin dari dulu dia begitu tapi aku tidak menyadarinya? Entahlah karna cinta atau nafsu aku menikah dengannya? Tapi aku tidak mungkin meninggalkan Sophie. Terlebih besok dia sudah tambah besar dan aku harus membawakan boneka untuk kado manisnya.”
Di bawah guyuran hujan Tardi pun pergi membelikan kado untuk putrinya. Dengan perasaan yang masih kalut. Tardi tidak mampu membebaskan pikirannya. Tentang istrinya, tentang segala carut-marut keluarga, tentang pekerjaan, terlebih tentang Sophie. Namun tanpa terasa Tardi mulai geram, amarahnya kembali membara, membakar semua kenangan indah tentang keluarga kecilnya. Mobilnya kembali menjerit memecah derasnya hujan. Hujan makin deras, jalanan pun menjadi licin dan jarak pandang menjadi sangat terbatas. Namun Tardi tidak perduli dan makin tancap gas.
***

“Jadi, kapan ayah akan pulang Ma? Sophie sudah rindu sekali sama ayah. Kenapa ayah tidak pernah pulang Ma?”
Ibunya hanya tersenyum sambil mengelus rambut Sophie. Mereka memandang keluar jendela, melihat bintang gemintang yang berkelip memukau.
“Ayah lagi banyak kerjaan, nanti kalau sudah selesai pasti ayah akan langsung pulang.” Sambil mengelus rambut Sophie.
“Tapi Sophie sudah rindu. Sudah empat kali Sophie ulang tahun tapi ayah tidak pernah datang. Ayah kan janji mau bawakan boneka Barbie.” Sophie mengeluh.
“Iya Sophie, nanti Mama sampaikan sama ayahmu supaya cepat pulang dan bawakan boneka Barbie dan Winne The Pooh.” Mereka masih memandang keluar sambil berbaring, berpelukan.
Kwak, Kwik dan Kwek  juga Ma.”
“Iya Sophie. Pasti ayah akan bawakan semua untuk Sophie. Sekarang Sophie tidur. Besok kan mau sekolah.”
“Selamat malam Mama.” Sambil mencium pipi ibunya.
Lantas ibunya memeluk Sophie lebih erat untuk menunjukkan kasihnya. Pandangannya jauh memandang angkasa. Tanpa terasa air mata menetes di sudut-sudut matanya.
“Andai saja Mama tahu di mana ayahmu sekarang Nak, pasti Mama akan berlutut dan memintanya untuk pulang menemuimu. Walaupun luka Mama takkan mungkin terobati namun demi kebahagiaanmu. Mama akan lakukan apapun untukmu Nak.
***

Hari-hari dipenuhi dengan hujan, sepanjang waktu. Bahkan senja pun tidak pernah tampak menguning. Tardi selalu bersembunyi dalam mobil memandang rintik hujan dari dalam, dari ketika langit mulai bergemuruh, petir saling menyambar sampai tetes demi tetes habis. Permukaan aspal pun tergenang air hujan. Tardi masih setia menunggu. Tetap menunggu. Berharap istrinya datang kembali, memasuki rumah dengan anak semata wayangnya yang imut dan ceria. Tardi akan memohon kepadanya, bukan karena cinta tapi untuk putrinya. Walau hanya untuk memeluk dan memberikan boneka ini untuknya.
Musim telah berganti. Saat ini, Bunga-bunga mulai jatuh berguguran. Taman depan rumahnya pun menjadi kusam tak terawat. Dari bunga kamboja, bunga seruni, bunga melati bahkan bunga anggrek pun telah gugur. Berhamburan. Langit pun berusaha menjatuhkan kesetiaan Tardi kepadanya. Namun Tardi tetap menunggu walaupun semua berubah tapi Tardi akan tetap menunggunya.

Waktu makin berlalu, setelah lama menunggu, entah berapa puluh tahun Tardi setia menunggu di dalam mobil ini. Debu-debu menyelimuti semuanya. Cat rumahnya pun berganti menjadi coklat. Sarang laba-laba menghiasi setiap sudut. Rumput ilalang makin meninggi menghiasi taman. Saat itu, udara makin panas dan sesak namun senja mulai hadir kembali dengan mega-mega kekuningan, kemerah-merahan seperti lempengan emas yang terbakar menyemburat di balik jendela mobil. Dari kejauhan terlihat anak kecil sambil menggendong boneka Winnie The Pooh, berjingkrak-jingrak. Rambutnya ikal panjang, terurai. Matanya berbinar-binar, wajahnya pun sangat ceria seperti merindukan sesuatu yang sangat dia impikan.
Sambil memegang tangan ibunya. Sophie tepat ditengah. Tardi makin tidak percaya saat istrinya, anaknya dan lelaki paruh baya itu mulai mendekat.
“Ma…Sophie rindu rumah ini, kita akan tinggal disini lagi kan Ma”
Ibunya hanya mengangguk dan memegang tangan Sophie. Jelas di sudut matanya terlukis kepedian amat mendalam, mengingat suaminya yang telah tiada empat tahun silam. Setelah kecelakaan yang dahsyat merengut nyawa suaminya.
“Ternyata dia sudah melupakanku, menikah dengan lelaki berwajah brewok, bulat tapi tetap rapi tidak seperti aku. Tapi apakah secepat itu? Padahal setiap waktu aku di sini menunggunya. Menanti saat dia pulang dengan anakku dan aku akan datang kembali untuk bersamanya. Entahlah, mungkin saja dia sudah bosan atau muak denganku.” Tardi tidak percaya dengan yang dilihatnya.
Tardi membuka pintu mobilnya. Seketika langsung menghampiri mereka. Tardi tidak sabar memeluk Sophie. Dari kejauhan Tardi berteriak, berharap Sophie akan berlari dan memeluknya. Namun, mereka tidak mendengarnya, suaranya tidak lagi terdengar hanya menguap dan hilang. Tapi suara mereka jelas terdengar. Tardi jadi makin tidak percaya saat mencoba untuk memeluk Sophie.
“Sophie ini ayah datang untukmu Nak. Ini ayah bawakan boneka untukmu lengkap. Kwak, Kwik dan Kwek  juga Nak. Ayah sudah sangat rindu memelukmu Nak.”
Alangkah kagetnya saat Tardi ingin berkata kepada istrinya. Tardi hanya ingin istrinya tahu kalau dia masih setia menunggunya kembali. Tapi bukan dengan lelaki itu. Hanya berdua. Dia dan Sophie. Tardi tidak bisa lagi mendekapnya, suaranya tidak lagi terdengar bahkan ketika Tardi mencoba untuk memukul wajah begis lelaki itu pun tidak bisa. Kini Tardi hanya bayang-bayang semu dari dunianya yang dulu.
Walaupun tanganku tidak mampu membelai rambutnya tapi jagalah malaikat kecilku. Selalu.








                                



TENTANG PENULIS


Andik S. Kasnata dilahirkan di Tuban, 18 Juni 1991. Anak sulung dari dua bersaudara. Mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Makassar. Saat ini, mengeyam pendidikan di Pascasarjana, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Makassar.
Sejumlah tulisannya sering dimuat dalam surat kabar ataupun koran di Makassar. Beberapa karya yang pernah diterbitkan yaitu: Kumpulan Cerpen (Kasih Tak Sampai) tahun 2012, Antologi Puisi (Tersembuyi) tahun 2013, Kumpulan Cerpen (Labirin) tahun 2013, Antologi Puisi (Belaian Malam Angin Mamiri) tahun 2013, Antologi Puisi (Memamah Birahi) tahun 2014.







***    ***   ***
Setiap karya yang kami publikasikan hak cipta dan isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis

Untuk Anggota Jaringan Penulis Indonesia yang mau mengirimkan karya harap mencatumkan subyek KARYA ANGGOTA + Tema Tulisan + Judul Tulisan pada email yang di kirim ke jaringanpenulis@gmail.com

Bagi yang ingin bergabung menjadi Anggota Jaringan Penulis Indonesia silahkan KLIK DISINI GRATIS
Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.