CERPEN: "Sebuah Cerpen Berjudul Keris" By Endik Koeswoyo


Sebuah Cerpen Berjudul Keris


Malam semakin mejelang, para Gus itu mulai muncul dengan senyum masing-masing. Kalimat salam muncul lalu diikuti dengan jabat erat dilanjut dengan jabat tangan dan peluk erat. Tujuh remaja itu sepertinya telah lama tak bersua, rasa rindu membuncah untuk melepas dahaga perkasa yang mejelma dalam hati masing-masing pria muda itu. Jarak telah memisahkan persahabatan mereka.

Kisah-kisah lama teruri dalam bingkai malam yang menusuk dengan dinginnya. Mereka berjibaku dalam pengalaman lama yang belum terungkap satu sama lain. Mengalir dingin dengan cangkir-cangkir kopi yang panas mengepul dalam bisikan semilir angin.
“Hahahha… Kenapa? Putus cinta lagi? Haram bagimu mencitai yang bukan istrimu!”
“Loch.. ini jaman modern Gus! Sudah tidak jaman menikah dengan wanita yang belum kita kenal!” sahut Gus satunya dengan argumen sepihaknya.
“Ya Ampyun, kalian kok ngomongin agama lagi to? Sudah ganti topik, bosan aku dengan itu! Seiap hari sudah bosan aku di jekoki Kitab Kuning!” sahut Gus yang lain tiba-tiba protes.
“Lalu kita harus ngapain lagi kalau tidak membicarkan cinta? Kita masih muda!”
Diam, masing-masing seakan tertohok oleh sepatah kalimat itu. Aneh, remja-remaja itu seakan menjadi patung.
“Aku mau menikah!” ucap salah Gus yang sedari tadi hanya diam.
“Oh ya? Kapan?”
“Secepatnya! Terlalu lama aku sembunyi dari kenyataan!”
“Pake adat apa?” Tanya salah satunya lagi.
“Jawa, karena aku orang jawa!”
“Di mana kamu akan menikah?” Tanya yang lain pula.
“Jawa Tengah! Di sana aku memilih untuk menikah dan melanjutkan sisa usiaku!”
“Adat jawa? Pake keris ya?” Tanya seorang Gus yang paling ujung.
“Iya, aku suka keris sejak dulu, ingin aku menyandangnya di kala pernikahan nanti!” sahutnya pelan namun mampu memecah keheningan malam.
“Oh ya, mari kita ambilkan sebilah keris untuk pesta pernikahannya nanti!”
“Di mana?” 
“Di Majapahit!” sahutnya mantab.
“Hahhahaha….” Lanjut yang lain tertawa.

***

Tujuh pemuda itu kini duduk bersila pada satu tempat diantah berantah. Dingin membeku, -mencekam sepi hening. Mulut mereka tampak komat-kamit.
“Bismillahirrahmannirrahim. Gedonge sukma pasebani sukma. Nur sukma mulya talirosoku tunggal. Nguling-nguling kapangeran” Mantra Ghaib itu terdengar hamper bersamaan dan berulang.

Angin malam masih mengalun membawa kerinduan. Semacam reuni akbar mereka menjadi satu dalam ketenangan dan doa. Angin berhembus semakin kencang, aroma mistis muncul dengan tiba-tiba. 

Seorang Gus berdiri dengan cepat, tangannya merapat di depan dada 
“Bismillaahirramaanirrahiim. Shalallaahualaihi wasallam. Allahumma kulhuaallah. Zat gumilang tanpa sangkan, liyep cut-prucut sukmaningsun metu saka raga gampang sarining gampang sak niatku, slamet saka kersane Allah. Laailallaillallah Muhammadarrasuulullah…"

Lalu angina berhembus semakin kencang. Dia terhuyung-huyung lalu memasang kuda-kuda untuk menaha diri. Gus yang lain masih komat-kamit, duduk bersila membaca doa, seakan memberi bantuan kekuatan pada sahabatnya. Cahaya kebiruan mucul dengan tiba-tiba. Direngkuhnya dengan cepat dan dia kembali bersila.
“Ini hadiah dari kami untuk kau gunakan dalam acara pernikahanmu, keris Nogo Sosro Sabuk Inten,” lanjutnya sambil menjulurkan tangannya yang sudah memegang sebuah keris usang Tangguh Majapahit.

Hening, semua kembali diam melanjutkan sebuah ritual yang entah apa namanya. Ada senyum yang mengembang dinatara mereka, ada persahabatan serat diantara mereka da nada banyak kenangan lama yang mereka ualng kembali setelah sekian lama tak bersua. Persahabatan mereka unik, tak terbatas waktu dan usia. Walau jika mereka berjumpa, secangkir kopi seakan menyatukan mereka.







TENTANG PENULIS







Endik Koeswoyo lahir di kota Jombang. Pernah mengeyam pendidikan di SMU 2 Banjarmsin, SMU Negeri 1 Sutojayan. Pernah kuliah di AKINDO Yogyakarta dan saat ini sedang menyelesaikan S1 Ilmu Politik di Universitas Bung Karno Jakarta. Gemar menulis sejak Sekolah Dasar. Saat kelas 3 SD di SDN Wonosalam IV Endik Koeswoyo sudah bisa menulis cerita pendek dan dibacakan di depan kelas. Ketika sekolah di SLPN Wonosalam I dia juga aktik menulis untuk mading. 

Hingga tahun 2014 Endik Koeswoyo sudah menulis 23 judul novel dan Buku. Hijrah ke Jakarta tahun 2012 untuk menulis Sinetron di Sinemart PH Jakarta.  Saat ini ENdik Koeswoyo aktif menulis FTV dan Bioskop Indonesia Trans TV. Saat ini memutuskan menjadi penulis freelance. Beberapa film layar lebar yang pernah dia tulis skenarionya "ME And You Vs The Wolrd, Kesurupan Setan. Segera rilis diakhir tahun 2014 film "Cerita Cinta" dan "Erau Kota Raja" adalah skenario film yang dia tulis dan akan tayang di Bioskop Indonesia dan Malaysia akhir tahun 2014.  

Untuk mengenal penulis lebih jauh, silahkan mampir ke BLOG Pribadinya : www://endik.seniman.web.id 

Twitter: @endikkoeswoyo



Posting Komentar
www.jaringanpenulis.com. Diberdayakan oleh Blogger.